Jakarta (beritajatim.com) – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah mengingatkan otoritas bursa serta OJK agar tidak perlu over reaction (reaksi berlebihan) dengan membekukan sementara perdagangan saham. Hal ini menyusul Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam sebesar 5 persen pada Selasa (18/3/2024).
“Hendaknya otoritas bursa dan OJK tidak over reaction yang justru menstimulasi reaksi berlebihan dari pelaku pasar lebih luas untuk kian mendorong aksi jual,” ujar Said dalam keterangan tertulis diterima beritajatim.com.
Said beralasan, saat ini pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta valuta asing dalam kondisi biasa saja. “Cermati perkembangan setidaknya satu dua hari ini,” ucap dia.
Perdagangan saham hari ini sempat dibekukan selama 30 menit akibat penurunan tajam IHSG sebesar 5 persen. Jika dihitung secara year to date, IHSG mencapai Rp6.076,08 atau turun 15,2 persen.
“Di antara negara peers, bursa saham kita yang cenderung menurun cukup signifikan, bahkan bursa Indonesia pada hari ini yang berada di zona merah,” kata dia.
Menurut Said, ini menggenapi sinyal pasar keuangan Indonesia sedang dalam kondisi yang harus diwaspadai. Dia pun berharap situasi ini tidak berlarut-larut.
“Sebagai Ketua Badan Anggaran DPR, saya berharap seluruh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memberikan respon untuk menenangkan pasar,” kata dia.
Saat ini, terang Said, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sampai dengan Sesi 1 hingga pukul 12.00 WIB, 18 Maret 2025 mengalami pelemahan di posisi Rp16.465. Secara year to date turun 1,1 persen. “Artinya masih dalam batas wajar,” kata dia.
Di luar pasar saham dan pasar keuangan, sektor perdagangan menunjukkan indikator positif. Data BPS pada Februari 2025 memperlihatkan nilai ekspor Indonesia mencapai US$21,98 miliar atau naik 2,58 persen dibanding ekspor Januari 2025. Dibanding Februari 2024 nilai ekspor naik sebesar 14,05 persen.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2025 mencapai US$43,41 miliar atau naik 9,16 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas yang mencapai US$41,21 miliar juga naik 10,92 persen.
Sedangkan neraca perdagangan per Februari 2025 surplus sebesar US$3,12 miliar atau senilai Rp51,07 triliun. Kondisi ini meneruskan surplus pada Januari 2025 sebesar US$3,49 miliar.
Sementara Indeks PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global meningkat menjadi 53,6 pada Februari 2025, naik dari 51,9 pada Januari 2025.
“Situasi ini memerlukan kebersamaan kita semua. Dari sisi KSSK, perlu menyampaikan bauran kebijakan sektor moneter dan fiskal yang memperkuat pasar keuangan kita,” kata Said.
Terkait kondisi ini, Said meminta KSSK untuk melakukan pembenahan, terutama dalam segi gaya komunikasi menjadi lebih simpatik dan dialogis. Selain itu, mengajak semua komponen khususnya pengusaha besar untuk menyelamatkan pasar keuangan Indonesia.
“Apalagi jika Bapak Presiden bersedia turun tangan langsung, mengajak rekanan bisnis internasional beliau memperkuat pasar saham kita. Apalagi kini ada Ray Dalio yang berada di Danantara, saatnya diminta ikut membantu pasar keuangan,” terang Said.
Menurut Said, Pemerintah dapat menunjukkan reformasi fiskal yang tengah berjalan mampu menjamin keberlangsungan fiskal jangka panjang. “Langkah ini untuk menepis keraguan investor setidaknya mereka tetap melihat SUN sebagai instrumen investasi yang menarik, yang saat ini sangat dibutuhkan pemerintah,” kata dia.
Said juga menyarankan agar otoritas bursa dan OJK memperluas basis investor. Khususnya di sector ritel dan inovasi produk terutama syariah untuk memperkuat pasar saham.
“Menghimbau para pihak yang tidak berkaitan dengan otoritas bursa tidak menambah kepanikan pasar dengan langkah langkah yang diniatkan untuk meredakan keadaan, justru makin menimbulkan perhatian dan reaksi berlebihan dari para pelaku pasar,” tutup Said.






