Jombang (beritajatm.com) – Setiap tahun, saat bulan suci Ramadan, rumah H Warsubi di Desa Mojokrapak Kecamatan Tembelang tak pernah sepi. Ribuan orang dari berbagai kalangan berbondong-bondong datang, berharap menerima zakat dan sedekah yang telah menjadi tradisi keluarga ini selama lebih dari satu dekade.
Yang menarik, meski jumlah penerima begitu banyak, acara ini selalu berlangsung dengan tertib dan damai—sesuatu yang jarang terjadi dalam kegiatan serupa di tempat lain.
Menurut Octadella Bilytha Permatasari, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Jombang, keberhasilan ini bukanlah kebetulan. Panitia yang telah terbentuk selama bertahun-tahun sudah sangat paham akan mekanisme pembagian yang efektif dan adil.
“Kami belajar dari pengalaman. Setelah bertahun-tahun menggelar kegiatan ini, kami memiliki pakem yang jelas dalam pelaksanaannya,” ujar Della yang juga anak pertama dari Warsubi, Sabtu (15/3/2025).
Tahun ini, ada yang berbeda dari sistem pembagian zakat dan sedekah yang diterapkan. Jika sebelumnya bantuan hanya diberikan kepada para tukang becak, kali ini penerimanya lebih luas. Sopir angkot, anak yatim, serta warga di 302 desa dan 4 kelurahan se-Kabupaten Jombang turut mendapat bagian.
Untuk memastikan distribusi yang lancar, panitia pun dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan tugas masing-masing. Mereka juga menggandeng berbagai lembaga amil zakat yang ada di Kabupaten Jombang.
Pendekatan yang dilakukan panitia tidak sekadar menunggu masyarakat datang, tetapi juga melakukan “jemput bola”. Mereka mendata langsung calon penerima manfaat di desa-desa, memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan—mulai dari anak yatim, kaum dhuafa, janda tua, hingga orang jompo.

“Dalam satu desa, kami menyiapkan 400 hingga 700 paket sembako. Dengan jumlah sebesar ini, lebih banyak warga yang bisa merasakan manfaatnya,” ungkap Della.
Demi kelancaran acara, panitia juga menjalin koordinasi dengan pemerintah desa untuk memastikan distribusi berjalan dengan aman dan tertib. Semua dilakukan dengan satu tujuan: menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan, tanpa kericuhan dan tanpa harus berebutan.
Apa yang dilakukan H Warsubi dan keluarganya bukan sekadar aksi berbagi, tetapi juga warisan nilai kebersamaan dan kepedulian yang terus terjaga dari tahun ke tahun. Tradisi ini bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang bagaimana berbagi dengan cara yang bermartabat dan penuh ketulusan. [suf]






