Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, mendukung penuh upaya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang terus bergerak membangun Surabaya dengan prinsip gotong royong.
Berbagai program yang membangun kepedulian sesama terus dibangun untuk melengkapi program-program kerakyatan yang telah dijalankan Pemkot Surabaya.
”Tren di dunia sekarang ini pembangunan kolaboratif. Saling melengkapi antara program yang dijalankan pemerintah dengan gerakan warga. Sehingga penyelesaian masalah semakin cepat dilakukan. Itulah gotong royong, nilai yang selama ini telah tumbuh di masyarakat,” ujar Eri, Rabu (5/3/2025).
”Warga yang mampu membantu warga kurang mampu. Tradisi seperti sinoman, jimpitan beras, dan sebagainya menjadi budaya di kampung-kampung, saling melengkapi dengan intervensi program yang dijalankan pemerintah,” terang Eri Irawan.
Seperti diketahui, skema pembangunan berbasis gotong royong beberapa kali disampaikan Wali Kota Eri Cahyadi. Salah satunya saat rapat paripurna DPRD Surabaya pada Senin (3/3/2025). Saat itu Eri Cahyadi menyampaikan bahwa gotong royong yang menjadi nilai dalam setiap agama dan Pancasila perlu dilaksanakan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan warga.
”Karena mohon maaf hari ini kita selalu mengatakan, kita harus menyelesaikan kemiskinan, kita harus menyelesaikan stunting, tapi ketika kita diminta berkorban untuk menyampaikan pikiran kita, kita terasa berat, Untuk menyampaikan tenaga kita, kita merasa berat, kita harus bertanya, berapa harga dari tenaga saya,” kata Eri Cahyadi saat itu.
”Ketika kita diminta memberikan sebagian rezeki, apakah Rp100.000 per bulan, Rp200.000 per bulan, kita juga berat mengeluarkan infak sedekah kalau untuk orang Muslim. Ini semuanya kita bisa berteriak tapi tidak pernah memberikan contoh,” imbuh wali kota muda tersebut.
Karena itu, Eri Cahyadi mengajak kepada dirinya pribadi dan anggota DPRD Surabaya untuk terus menggelorakan semangat kepedulian, serta menyebarkannya ke kampung-kampung.
”Untuk saya pribadi, dan saya yakin untuk semua anggota DPRD, kita harus bisa memberikan contoh kepada seluruh warga. Bagaimana kita berjuang dengan harta, memberikan harta kita untuk membantu setiap RW (di wilayah masing-masing), apakah Rp100.000, Rp200.000 per bulan, untuk bergerak di RW itu. Bayangkan kalau dalam satu RW, yang mampu membantu yang lemah, di situlah ada kekuatan luar biasa (untuk membangun Surabaya),” jelas Eri Cahyadi.
Eri Irawan mengatakan, kolaborasi adalah kunci menggerakkan kesejahteraan sosial dan ekonomi di Kota Pahlawan. Menurut Eri Irawan, hal itu terlihat pada berbagai inisiatif seperti Kampung Madani di Surabaya, sebuah kampung dengan konsep semua warga saling bergotong royong bersama pemerintah dalam mencari solusi atas masalah yang dihadapi.
”Konsepnya kan jelas. Misalnya, Pemkot Surabaya menjalankan program bedah rumah tidak layak huni. Sudah lebih dari 8.000 rumah sejak empat tahun terakhir. Itu bukan karena Pemkot Surabaya hebat. Tapi justru karena RT, RW, Kader Surabaya Hebat, melakukan pendataan yang diinput di sistem, sehingga warga yang membutuhkan dapat segera diintervensi,” ujar Eri.
”Bahkan, di kampung saya, Menur Pumpungan, warga lansia yang rumahnya sedang diperbaiki Pemkot Surabaya, untuk sementara dia tinggal di salah satu rumah tetangganya sampai rumahnya selesai diperbaiki, sekitar sebulan. Itu yang namanya gotong royong,” sambung Eri.
Eri juga mencontohkan tradisi sinoman yang tumbuh di kampung. Setiap bulan, warga dalam satu RW bergotong royong seikhlasnya, ada yang membayar Rp3.000, Rp5.000, dan bahkan ada yang Rp100.000 sesuai kemampuan. Dana itu digunakan membantu warga kurang mampu yang berduka karena anggota keluarganya meninggal.
”Ini satu contoh lagi. Pemkot Surabaya kan sudah ada program Jaminan Kesehatan Semesta dialokasikan Rp500 miliar per tahun. Warga dirawat di rumah sakit gratis sesuai ketentuan. Ketika ketentuan Allah, warga kurang mampu tersebut meninggal, pasti butuh, misalnya, untuk tahlilan 7 hari. Dana sinoman digunakan membantu warga tersebut. Bahkan ada kampung yang ketika warga meninggal, mulai biaya beli nisan kayu sampai tahlilan menggunakan dana sinoman,” jelas Eri.
”Secara umum, kita mengapresiasi ada wali kota yang jujur mengatakan bahwa kemajuan kota itu ditentukan dari gotong royong warganya, bukan karena kehebatan wali kotanya,” imbuh Eri.
Eri Irawan juga mencontohkan kota-kota di dunia yang membangun gotong royong. Di Seattle (AS) dan Helsinki (Finlandia), ada program ”time bank” alias ”bank waktu” di mana warga dapat mendonasikan ”waktunya” untuk membantu sesama, seperti merawat anak, memberikan kursus, atau membantu membetulkan kendaraan.
”Yang menjadi ’mata uang’ adalah waktu. Ketika warga sudah membantu dua jam, misalnya, maka dia bisa mendapatkan bantuan dari orang lain selama dua jam sesuai kebutuhannya. Konsepnya resiprokal, we help each other, saling menolong. Itu kan gotong royong, karena pemerintahan di mana pun tidak bisa bekerja sendirian tanpa kolaborasi warga,” pungkasnya.[ADV/asg]






