Jember (beritajatim.com) – Di bawah gerimis hujan, Bupati Muhammad Fawait mendapat sambutan meriah saat menapakkan kaki pertama kali di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (3/3/2025) sore.
Ini hari pertama Fawait masuk kerja sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Kamis (20/2/2025).
Kedatangan Fawait tanpa ditemani Wakil Bupati Djoko Susanto. Sebelumnya saat apel dengan aparatur sipil negara di depan kantor Pemkab Jember di Jalan Sudarman dan saat Fawait mengunjungi Pasar Tanjung, mantan kepala Badan Pertanahan Nasional Jember ini juga tak menampakkan diri.
Kehadiran Djoko Susanto hanya berupa foto di layar besar yang menjadi latar belakang podium Fawait di pendapa lantai kedua. Belum ada keterangan resmi dari Pemkab Jember soal ketidakhadirannya.
Fawait tiba di pendapa bersama istrinya Gyta Eka Puspita fengan disambut salawat badar. Sebelum memasuki pendapa, Fawait menyempatkan diri menyalami warga yang sebagian berbusana warna merah muda.
Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini juga berorasi di atas panggung kecil yang sudah disediakan panitia. “Ini hujan berkah. Insyallah, Jember baru Jember maju,” katanya.
“Hari ini saya kembali ke Jember. Kita membawa semangat Jember baru, Jember maju. Kalaupun Gus Fawait dari desa, kalaupun ada yang menghina, tidak apa-apa. Balas dengan kerja, kerja, kerja,” kata Fawait.
Fawait berjanji pada awal April seluruh warga Jember bisa berobat gratis di rumah sakit seluruh Indonesia. “Kalau pun kita dihina, tidak usah marah. Kita balas dengan cinta. Kita buktikan dengan kerja, kerja, dan kerja,” katanya.
Fawait dan istri kemudian naik ke lantai dua pendapa. Di sana sudah menunggu Forkopimda, anggota DPRD Jember, pimpinan partai, tokoh masyarakat, dan para pejabat Pemkab Jember.
Di hadapan ratusan orang hadiri, Fawait menegaskan sikapnya untuk tegak lurus dengan program Presiden Prabowo Subianto. “Visi-misi Presiden Prabowo harus kita perjuangkan bersama-sama, termasuk Pemerintahan Kabupaten Jember,” katanya.
Fawait mengaku sering diledek sebagai anak desa. “Mau bagaimana lagi, wong saya lahir di desa. Tapi ke depan kita akan buktikan bahwa kalau anak santri jadi bupati, anak desa jadi bupati, insyaallah Jember baru Jember maju,” katanya.
Kendati tidak ada aturan soal program kerja seratus hari, Fawait mengaku sudah menyusun program kerja tersebut.
“Namun saya mohon, disampaikan kepada masyarakat, bahwa APBD 2025 sudah disusun pemerintahan yang lama. Kami baru bisa mengubah di Perubahan APBD , itu pun ruangnya tidak begitu besar. Nanti yang besar di tahun 2026, 2027, 2028, 2029, da 2030,” katanya.
Fawait juga meminta agar efisiensi anggaran tidak disalahpahami. “Efisiensi yang disampaikan presiden, sama sekali tidak mengganggu progran pelayanan dasar: pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Yang dikurangi hanya perjalanan dinas, acara seremonial, dan lain sebagainya. Jadi tidak perlu khawatir,” katanya.
Penyesuaian akan dilakukan dalam Perubahan APBD 2025 bersama DPRD Jember. “Insyaallah di Jember akan terbentuk iklim pemerintahan yang kondusif, karena saya dua kali jadi anggota DPRD (Jatim),” kata Fawait. Kondusivitas politik ini diperlukan untuk menarik investasi datang ke Jember.
Fawait meminta para kiai tidak megkhawatirkan urusan pesantren. “Bupatinya santri. Pasti pesantren mendapatkan prioritas yang layak di Kabupaten Jember,” katanya.
Para kepala desa juga diminta tak khawatir. “Sekarang para kades punya bupati kades. Tak usah khawatir,” kata Fawait. [wir]







5 Komentar
Semoga amanah sungguh n tepati janji janijinya
Ala acara dipendopo itu acara seremonial buang2 anggaran pemkab yg tdk sesuai aeahan prabowo…piye gus dadi ga pernah pokro
Liat aja spt apa kerja nya
Saya tdk yakin dia bisa ngurusin jember spt Bupati sebelum nya
Baru dilantik sudah gak kompak bupati dan wabupnya. Ada apa gerangan????!!!