Surabaya (beritajatim.com) – Euforia panjat tebing yang dipicu oleh kemenangan Veddriq Leonardo di Olimpiade Paris 2024 terus berlanjut. Kali ini, ratusan atlet cilik dari berbagai penjuru Indonesia menunjukkan bakat mereka dalam kompetisi panjat tebing tingkat nasional, The Spider Kids 2025, yang diselenggarakan serentak di empat kota: Surabaya, Bandung, Makassar, dan Bali.
EIGER Tropical Adventure, sebagai penyelenggara, mencatat antusiasme luar biasa dari para peserta. Sebanyak 291 anak usia dini turut serta dalam kompetisi yang berlangsung pada 22-23 Februari 2025 ini. Di Surabaya sendiri, jumlah peserta mencapai 126 anak, menjadikannya kota dengan peserta terbanyak.
“Kompetisi ini dibuat EIGER di berbagai kota di Indonesia dalam berbagai seri. Untuk menampung minat para pemanjat usia dini. Bagian dari upaya EIGER untuk mendukung Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) mencetak atletnya sejak usia dini. Mulai dari kategori Youth E di usia tujuh tahun, bahkan lebih muda lagi,” ungkap Galih Donikara, Eiger Adventure Service Team Advisor, saat ditemui di pembukaan acara di Surabaya.
Antusiasme yang membeludak ini mendapat apresiasi dari FPTI Kota Surabaya. Muhammad Efendi, Technical Delegate FPTI Kota Surabaya, menyebut The Spider Kids 2025 sebagai barometer kompetisi panjat tebing, tidak hanya di Surabaya, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia.
“Kompetisi bergengsi The Spider Kids 2025 sangat ditunggu oleh berbagai klub panjat di Jawa Timur, karena menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan para klub. Bukan hanya atletnya, namun juga pelatihnya, gengsi dan kemampuan antar atlet dan pelatih diadu di kompetisi EIGER ini,” kata Efendi.
Efendi menambahkan bahwa kompetisi ini telah melahirkan juara-juara baru dari berbagai klub, menunjukkan ketatnya persaingan dan efektifnya pembinaan atlet usia dini. “Yang mengejutkan adalah, usia atlet-atlet cilik ini masih sangat muda, pembinaan masih bisa sangat panjang. The Spider Kids 2025 di Surabaya mempertandingkan kategori lead, dengan tingkat kesulitan, siapa paling tinggi dia yang menang sampai ke babak final dengan jalur yang terus berubah, juga pemenang yang selalu bergantian antar klub panjat,” jelasnya.
Kompetisi ini juga menjadi ajang bagi para pelatih untuk menguji hasil pembinaan mereka. Agung, pelatih dari Arjuna Rock Climbing Pasuruan, datang jauh-jauh membawa tiga atlet andalannya, termasuk yang berusia tujuh tahun.

“Kami membina atlet panjat tebing sejak usia dini karena program jangka panjang, mencetak prestasi atlet bahkan ada yang sudah dimulai sejak empat tahun usianya. Dukungan dari orang tua membawa anak-anak ini dari sekadar coba-coba, hingga keinginan untuk berprestasi dan menjadi atlet,” tutur Agung.
Salah satu atlet cilik yang mencuri perhatian adalah Zahwa, 12 tahun, dari Tumpang Climber Club Malang. “Aku suka manjat sejak umur tujuh tahun. Seru dan menantang. Aku anaknya nggak bisa diam, coba ikut panjat eh ternyata suka. Ketika sudah di papan panjat aku nggak takut sama sekali, bahagia sekali bisa ikut kompetisi EIGER ini, kenalan dengan anak-anak asal klub panjat kota lain di Jawa Timur,” cerita Zahwa dengan antusias.
Sebagai kompetisi resmi pembinaan atlet usia dini, The Spider Kids 2025 menggandeng FPTI sebagai technical delegate. Pengawasan, keamanan, dan penilaian kompetisi dikawal ketat oleh FPTI di setiap kota penyelenggaraan, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh FPTI provinsi dan pusat.
Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi bagi para atlet cilik, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa panjat tebing semakin diminati di Indonesia. Dengan pembinaan yang tepat, bukan tidak mungkin para atlet cilik ini akan menjadi penerus Veddriq Leonardo di masa depan.[rea]






