Jember (beritajatim.com) – Kendati dibanderol hanya Rp 800 per kilogram, pupuk bersubsidi jenis organik kurang diminati petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Petani masih terpaku dengan penggunaan pupuk kimia.
Slamet Saputra, Account Executive PT Pupuk Indonesia Wilayah Jember, mengatakan, Jember memperoleh kuota 609 ton pupuk organik tahun ini. Dibandingkan kuota pupuk urea sebanyak 65.001 ton dan pupuk NPK bersubsidi sebanyak 49.488 ton jumlah ini sangat sedikit.
Namun serapan pupuk kuota bersubsidi juga sangat kecil. “Sampai saat ini baru terserap 93 ton sejak Januari 2025,” kata Slamet, diberitakan Sabtu (15/2/2025).
Tahun lalu, Jember tidak memperoleh jatah pupuk organik bersubsidi. Slamet berharap petani menebus pupuk organik yang tersedia kendati tidak wajib. “Kalau tidak ditebus dalam satu tahun nanti alokasinya berkurang lagi,” katanya.
PT Pupuk Indonesia akan berupaya lebih menyosialisasikan penggunaan pupuk organik melalui kios. “Mudah-mudahan, seharusnya alokasi 609 ton habis,” kata Slamet. Namun Slamet juga berharap pemerintah daerah ikut mengampanyekan penggunaan pupuk organik di kalangan petani.
Ahmad Hoirozi, anggota Komisi B DPRD Jember, mengingatkan pentingnya pemupukan berimbang yang tidak hanya menggunakan pupuk kimia, namun juga pupuk organik. Ia meminta Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan.
“Komisi B siap mendukung untuk menyukseskan penggunaan pupuk organik dengan tepat. Biar pupuk organik yang sudah disubsidi pemerintah ini tidak sia-sia,” kata politisi Gerindra ini.
Jumantoro, petani asal Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, mengatakan, petanu sudah telanjur berperilaku instan dalam berbudidaya. “Lagi pula pupuk organik bisa dibikin sendiri oleh petani. Lebih Baik pupuk organik digratiskan saja,” katanya, Sabtu (15/2/2025).
Sementara itu, Hendro Handoko, petani asal Kecamatan Ledokombo, menilai pupuk organik duanggap kurang dimanfaatkannya secara langsung. Alhasil, mereka pun enggan menebusnya di kios. “Rata-rata petani masih kurang percaya atas hasil pupuk organik walau sudah ada sosialisasi pupuk berimbang,” katanya.[wir]






