Seharusnya warna sampul buku ini berwarna merah. Menyala. Bukan biru tua. Semestinya judulnya pun bukan Jalan Terjal Etika Politik: Catatan Pilu Pemilu 2024, melainkan ‘(Sebuah Pengantar) Manifesto Politik’.
Terlalu berlebihan untuk sebuah buku bunga rampai esai tentang pemilu? Mungkin. Namun bisa juga tidak.
Sebagaimana sebuah manifesto politik, buku ini dibuka dengan keragu-raguan sekaligus harapan terhadap praktik demokrasi di negara kita. ‘Di epos Ramayana, yang di Jawa sudah ditransformasikan menjadi beragam seni pertunjukan, diceritakan Raja Alengka menculik Dewi Shinta istri Rama’. [Siasat ala Raja Alengka dan Pemilu 2024]
Jika Karl Marx memasang sosok ‘hantu yang bergentayangan di Eropa’ sebagai perlambang komunisme dalam manifestonya, Andang Subaharianto memilih sosok ‘Raja Alengka’ sebagai personifikasi kekuasaan yang tidak otentik dan memiliki wajah menyesatkan.
Dan sebagaimana Karl Marx yang menutup manifestonya dengan ‘buruh sedunia bersatulah’, Andang juga berseru dengan nada optimistis namun harap-harap cemas: ‘Rakyat Indonesia menunggu (sebagai saksi) perjuangan besar Sang Presiden‘.
Andang tidak menutupi kekecewaan dan kemarahannya terhadap Pemilu 2024 (yang dituangkan dalam 38 esai politik yang tajam dan bernas). Namun dia tahu, tak ada lagi yang bisa dilakukan saat ini. Setidaknya sementara waktu.
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menang dengan didukung 58 persen pemilih. Apa boleh buat. Andang harus berdamai dengan kenyataan tanpa harus menanggalkan sikap sebagai komentator politik yang kritis terhadap kekuasaan.
Dia tahu, dia akan selalu kembali untuk menghadapi kekuasaan dengan esai-esainya, sebagaimana dikatakan Pramudya Ananta Toer: ‘Tulisan saya merupakan jawaban dan menunjukkan kepada mereka bahwa budaya saya lebih tinggi daripada mereka. Begitulah saya melawan mereka.’
Saya mengenal Andang sejak saya masih menjadi aktivis pers kampus di Universitas Jember pada era 1990-an. Dia dikenal sebagai dosen muda Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) yang idealis di kalangan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Saat menjadi wartawan media arus utama lokal, beberapa kali saya mewawancarainya. Topiknya tentu saja tidak jauh-jauh dari urusan politik.
Bersama GMNI, Andang tumbuh dan menemukan ‘rumah’ yang memang dibutuhkan oleh setiap penulis (terutama di bidang politik). ‘Rumah’ ini tidak hanya melulu urusan ‘style of writing‘ atau gaya menulis, tapi juga perspektif ideologis yang dibentuk dalam waktu tak sekejap.
Penggunaan sejumlah terma seperti Marhaen dalam artikel ‘Pak Marhaen Menantang Capres pada Pemilu 2024‘ (Halaman 67-72) dan ‘Keterasingan Pak Marhaen Menjelang Pemilu 2024‘ (Halaman 80-86) serta ‘vivere pericoloso‘ dalam esai ‘2024: Tahun Vivere Pericoloso‘ (Halaman 160-168) sudah cukup menunjukkan ‘rumah’ Andang.
Artikel-artikel dalam buku ini sudah pernah dimuat di media daring Kompas.com. Andang mulai rajin menulis artikel esai sosial politik di sana sejak medio Juni 2023. Selama 15 bulan sejak bergabung, dia telah menulis lebih 70 artikel. “Mayoritas atau boleh dikatakan sekitar 75 persen, pasti ada hubungannya dengan pemilu,” katanya.
Dan Andang mengakui bukunya adalah kisah sedih tentang pemilu. “Mengapa sedih? Karena saya kira sama, warga Indonesia pada umumnya sangat berharap Pemilu 2024 berjalan baik. Kalau pun ada money politics, itu bisa ditekan, sehingga prosesnya memberikan kualitas demokrasi yang lebih baik. Tapi apa lacur? Politik uang bukannya bisa ditekan, tapi justru ugal-ugalan,” katanya.
[Ah, mungkin karena ini buku ini bersampul biru. Orang Inggris mengidentikkan kesedihan dengan warna biru. Feeling blue.]
Money politics atau politik uang mendapat perhatian khusus dari Andang di Bab 2. Dia menyebut politik uang tak menghargai harkat manusia. “Merdeka dari politik uang, saya kira, perlu menjadi perhatian serius kita bersama.”[Halaman 97]
Andang mengajak publik untuk meninggalkan politik uang dan ‘memuliakan politik gagasan. “Kembalikan politik sebagai jalan menuju kemaslahatan umum.” [Halaman 98]
“Ada kewajiban politik bagi calon pemimpin politik pada politik gagasan. Kewajiban itu akan dilunasi melalui produk politik. Bisa peraturan perundang-undangan. Bisa pula kebijakan-kebijakan. Melalui produk politik itu rakyat menilai kinerja para pemimpinnya.” [Halaman 98-99]
Selain menunjukkan sesuatu yang etis, esai-esai dalam buku ini juga menegaskan sikap Andang yang menampik berjarak dari persoalan (atau pertarungan politik). Esai-esainya menunjukkan sosok seorang ‘pejuang-pemikir dan pemikir-pejuang’ yang tidak ragu-ragu membela sosok Megawati Soekarnoputri dan Ganjar Pranowo.
Andang membuka esai ‘Luka Megawati: Dari Soeharto ke Jokowi‘ dengan adegan yang terjadi pada 21 Juni 1970. ‘…dokter yang menangani Bung Karno keluar ruangan tanpa bicara. Hanya menggelengkan kepala. Putra-putri Soekarno bergegas masuk ruangan. Di pembaringan sang ayah tergolek lemah. Megawati Soekarnoputri mendekat, membisikkan kalimat syahadat.‘
‘Tapi, hanya satu kata yang terucap lirih: “Allah”. Soekarno, pejuang kemerdekaan dan proklamator, yang sebagian besar hidupnya dipersembahkan untuk mengantarkan kemerdekaan bangsa Indonesia, menghembuskan nafas terakhir.‘
Melalui esai ini, Andang bersimpati kepada Megawati yang harus menanggung sejumlah luka sejarah sepanjang hayat. Kematian trags Bung Karno setelah tercampak dari kekuasaan dan sikap Megawati adalah sebuah refleksi kritis terhadap politik dan kekuasaan.
‘Benarkah politik dan kekuasaan itu gelap, tak ada cahaya sedikit pun yang bisa memantulkan kemanusiaan dan moralitas? Apakah untuk menang dalam politik dan kekuasaan boleh culas, boleh menerabas dimensi keadaban? Mengapa politik dan kekuasaan harus meninggalkan akal sehat dan membunuh rasa kemanusiaan?‘ [Halaman 206-207]
Sementara itu di esai lainnya, Andang memuji peran Megawati dan PDI Perjuangan dalam proses demokratisasi di Indonesia, sebagaimana rekomendasi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-5, 24-26 Mei 2024.
“Tapi, saya percaya, sebagai partai yang mengukuhi nilai-nilai substantif dan kaya pengalaman, baik di luar pemerintahan maupun di dalam pemerintahan, PDI-P akan menerjemahkan isi rekomendasi itu melalui tindakan politik yang memerhatikan kebutuhan Indonesia ke depan: penguatan politik demokrasi dan stabilitas politik. Dua hal yang memang tak mudah disatukan.” [Halaman 256]
Tak hanya terhadap Megawati, Andang juga menaruh hormat kepada Ganjar Pranowo, calon presiden PDI Perjuangan. Dia menyebut kebiasaan lari pagi Ganjar jelang pemilihan sebagai pilihan yang kreatif dan menarik.
‘Sebuah tantangan sendiri. Meski gampang, tak setiap orang mampu. Tak mungkin dilakukan tanpa kesiapan fisik yang prima. Hal urgen pula bagi calon pemimpin. Kesehatan fisik berkontribusi besar bagi kesuksesan kepemimpinan‘. [Halaman 24]
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian terhadap Masyarakat Universitas Jember Yuli Witono siap memfasilitasi Andang untuk menulis buku politik yang lebih mendalam. Sesuatu yang memang diharapkan Andang.
Jika benar terlaksana, saya berharap Andang menulis kritik pedas dan tegas terhadap pemerintahan saat ini sebagaimana dilakukan Mohammad Hatta terhadap Soekarno melalui buku ‘Demokrasi Kita’ yang terbit pada 1960.
Buku sekuel tersebut seharusnya benar-benar menjadi manifesto politik Andang yang memposisikan diri sebagai seorang intelektual ‘parrhesias‘: menyampaikan kebenaran dan sekaligus mengadvokasinya.
Mungkin berbahaya. Namun Andang bukanlah intelektual tak bernyali yang berlindung di balik mantra ‘netralitas’. Dia justru tampil di depan melalui tulisan-tulisannya untuk mengatakan ‘tidak’ terhadap perilaku kekuasaan yang lancung dan melenceng, sekaligus mengirimkan pesan keberanian kepada publik.
Saya membayangkan, Andang kelak akan menulis buku seperti ‘How Democracies Die‘ karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblat, untuk memaparkan cara dan alasan kematian demokrasi di Indonesia. Melalui buku itu, dia membuktikan bahwa optimisme yang dimunculkan pada bab akhir buku pertamanya nyaris ambruk. Demokrasi di Indonesia tengah berada dalam kegelapan, saat para politisi di DPR RI menabraki aturan main yang telah disepakati bersama.
Tidak mudah tentu saja. Namun saya meyakini, dengan buku tersebut (apapun judulnya), Andang telah menunaikan tugas sebagai suluh atau obor penerang sebagaimana arti namanya. [wir]






