Bojonegoro (beritajatim.com) – Persibo Bojonegoro sempat tampil menawan di awal Liga 2 musim 2024/2025. Bahkan lima kali pertandingan tak pernah kalah. Mendekati babak 8 besar performa Tim Laskar Angling Dharma itu menurun, Kamis (30/1/2025).
Ditambah polemik saat perebutan 8 besar melawan Deltras FC Sidoarjo. Seperti diketahui laga itu berujung kericuhan, hingga sejumlah keputusan kontroversial diterima. Termasuk keputusan PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang membatalkan gol pada menit akhir.
Keputusan itu membuat Presiden Klub Persibo Bojonegoro Deddy Adrianto Wibowo kecewa. Sebab keputusan itu dinilai sangat merugikan timnya hingga akhirnya harus masuk play off degradasi. Serta denda Rp500 juta dan pengurangan 9 poin yang harus dibayar. Keputusan itu dinilai sebagai bentuk penggembosan dunia sepakbola.
“Saya masih baru, belum genap 2 tahun terjun di dunia sepakbola Indonesia dengan mengelola Persibo. Ternyata di luar yang kita lihat, ada yang diluar kuasa,” ujar Deddy.
Dalam keterangannya saat melakukan podcast bersama pengamat sepakbola nasional, Akmal Marhali di channel youtubenya, Deddy juga membeberkan alasan kenapa dia tertarik mengelola Persibo Bojonegoro, meski harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
“Saya suka dan cinta sepakbola, mencoba untuk kontribusi, terutama saat melihat timnas yang lagi bagus,” tambahnya.
Menurut Deddy, dengan mengelola klub sepakbola, dia bisa mendapat kesempatan terlibat langsung, merasakan kemenangan di dalam tim, dan tidak hanya sebagai penonton. “Apa ini perpeloncoan untuk saya ya, selaku orang baru di industri sepakbola. Apa ada yang miskomunikasi?” pungkasnya. [lus/beq]






