Tulungagung (beritajatim.com)– Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mulai berdampak pada peternak sapi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Harga sapi di Kota Marmer ini terjun bebas dan sejumlah pedagang memilih untuk menghentikan sementara transaksi jual beli guna mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut.
Namun, keputusan ini justru menyebabkan kerugian pada peternak sapi. Karena biaya pakan ternak tetap harus dikeluarkan meski tidak ada transaksi.
Salah satu peternak sapi di Desa Sumberingin Kulon, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Agung Sunarso, mengungkapkan untuk mencegah penyebaran PMK, dia dan beberapa peternak telah mengambil berbagai langkah pencegahan.
Selain terus memantau kesehatan ternak, mereka juga memberikan tambahan vitamin dan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh sapi.
“Kami membuat ramuan jamu dari rempah-rempah seperti kunyit dan jahe, yang diberikan dua kali sehari untuk memperkuat sistem imun sapi,” jelas Agung, Sabtu (4/1/2024).
Dampak PMK ini telah menyebabkan penurunan harga sapi di pasaran, dengan penurunan mencapai Rp4 juta per ekor. Harga sapi yang sebelumnya mencapai Rp20 juta kini turun menjadi Rp16 juta per ekor.
Akibatnya, Agung memilih untuk menunda transaksi jual beli sapi demi menghindari risiko penyebaran penyakit. “Meski begitu, kami tetap merugi karena biaya pakan ternak terus berjalan,” katanya.
Selain itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung, Tutus Sumaryani, menjelaskan bahwa arus perdagangan sapi menjadi salah satu faktor penyebaran PMK di wilayah tersebut.
Untuk mengatasi hal ini, pihaknya melakukan pengawasan ketat di pasar hewan terpadu dengan menyemprotkan disinfektan pada sapi yang masuk ke pasar. Jika ditemukan sapi yang sakit, pemilik diharuskan untuk membawa sapi tersebut pulang.
“Kami terus melakukan upaya pencegahan dengan memantau pergerakan sapi di pasar hewan, termasuk penyemprotan disinfektan untuk mencegah penyebaran PMK,” tegas Tutus. [nm/beq]






