Jombang (beritajatim.com) – Badut model polisi dan kuda zebra berlenggak-lenggok di depan belasan anak-anak di posko pengungsian Balai Desa Blimbing Kecamatan Kesamben Kabupetan Jombang, Jumat (13/12/2024).
Anak=anak korban banjir ini sangat menikmati. Mereka tertawa berderai sembari menggoda dua badut tersebut. Keceriaan tersebut semakin bertambah ketika mereka diajak bernyanyi bersama-sama lagu ‘Di Sini Senang Di Sana Senang’.
Lalu, salah satu polisi meminta anak-anak itu melakukan tepuk badut. Semuanya kompak. Semuanya bersuka-cita. Terakhir, para personel dari Satlantas Polres Jombang ini membagikan susu kemasan dan kue coklat kepada anak-anak tersebut.
Keceriaan itu salah satunya terpancar dari wajah Rafa, bocah asal Dusun Beluk Lor Desa Jombok Kecamatan Kesamben. Boah yang duduk di kelas 4 ini sudah tiga hari berserta keluarganya tinggal di pengungsian.
“Banjir di rumah saya setinggi dada. Makanya kami mengungsi. Sekolah saya juga kebanjiran, sehingga diliburkan. Mudah-mudahan air segera surut sehingga kami bisa pulang ke rumah dan bisa sekolah lagi,” katanya.
Kasatlantas Polres Jombang Iptu Rita Puspitasari ikut mengantar anak buahnya menghibur para pengungsi di Posko Pengungsian Balai Desa Blimbing Kecamatan Kesamben. Selain membawa badut untuk mengibur anak-anak, pihaknya juga menyerahkan bantuan.
Bantuan tersebut meliputi, beras dan logistik lain, air mineral, bumbu dapur, makanan ringan, serta celana popok untuk bayi atau pampers. Bantuan tersebut diterima secara simbolis oleh perwakilan pengungsi dan disaksikan Kades (Kepala Desa) Blimbing Muji Alipah.

“Kami juga memberikan ‘trauma healing’ untuk anak-anak di pengungsian. Tujuannya, agar mereka terhibur dan tidak jenuh. Karena sudah berhari-hari mereka tinggal di pengungsian. Dengan trauma healing diharapkan menghilangkan kecemasan, panik, dan gangguan lainnya,” kata Rita.
Kades Blimbing Muji Alipah mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh jajaran Satlantas Polres Jombang. Dia mengatakan bahwa warganya yang terdampak banjir berada di Dusun Kedondong. Sejak Senin air terus meningga hingga setingga dada.
Dusun Kedondong pun berubah menjadi ‘kolam raksasa’. Ada sekitar 350 warga yang tinggal di dusun tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 125 orang mengungsi di balai desa. Sedangkan warga lain ada yang mengungsi ke rumah saudarnya.
“Alhamdulillah, kebutuhan dasar mereka tercukuo semua. Mulai makan, minum, MCK, hingga kebutuhan air bersih. Memang ada yang mulai terserang penyakit gatal-gatal dan flu. Walhasil, sudah ditangani oleh petugas medis dari Puskesmas Blimbing,” jelas Muji.
Bagaiana kondisi banjir saat ini? Muji mengungkapkan bahwa debit air sudah berkurang tapi tidak signifikan. “Ada penurunan sekitar 10 sentimeter. Rumah warga masih tergenang. Kalau hujan deras, debit air akan naik lagi,” pungkasnya. [suf]






