Bondowoso (beritajatim.com) – Permintaan beras organik dari Kabupaten Bondowoso meninggi setelah produk pangan tersebut merambah pasar nasional. Saking tingginya, petani sampai kewalahan.
Hal ini terungkap usai Gapoktan Al Barokah yang berada di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari menerima kunjungan dari Pemkab Bondowoso dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ditulis Rabu (11/12/2024).
Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan ketahanan pangan berkelanjutan di Bondowoso.
Menurutnya, UMM telah terlibat dalam pengembangan pertanian organik di daerah ini sejak 2008 dengan luasan kini mencapai 105 hektare yang tersertifikasi organik.
Salis menyatakan fokus utama saat ini adalah penguatan infrastruktur dan teknologi pertanian, termasuk penggunaan energi mandiri untuk mendukung keberlanjutan.
“Kami melihat potensi besar di sini, tapi ada beberapa tantangan yang harus diatasi, seperti mesin produksi yang perlu diperbaiki atau diganti. Selain itu, daerah ini memiliki peluang besar untuk menggunakan energi mandiri, seperti solar panel atau mikro hidro, mengingat ketersediaan sinar matahari dan air yang stabil sepanjang tahun,” ungkap Salis kepada BeritaJatim.com.
UMM juga akan mengirim tim teknik mesin dan elektro untuk memeriksa mesin yang ada. Jika diperlukan penggantian mesin, UMM berencana menggandeng mitra, seperti Bank Indonesia (BI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), atau Bank Jatim, yang sudah berkolaborasi dalam program ini.
Diketahui, Kabupaten Bondowoso memiliki peluang besar menjadi percontohan nasional untuk pertanian organik.
Kepala Desa Lombok Kulon, Mulyono, menyebutkan bahwa saat ini luasan lahan organik mencapai 105 hektare dan akan ditambah 40 hektare pada 2025.
Proses konversi menuju organik membutuhkan waktu tiga tahun untuk menetralkan tanah dan air dari zat kimiawi.
“Desa Lombok ini memiliki pengairan yang stabil, sehingga sangat mendukung untuk pengembangan hingga 250 hektare,” kata Mulyono.
Dengan produksi beras organik mencapai 30-40 ton per bulan, desa ini telah menjalin kerja sama dengan tujuh mitra perusahaan.
Permintaan pasar yang terus meningkat, terutama untuk beras organik aromatik dan beras hitam, mendorong pengembangan dua kelompok tani (Poktan) baru di tahun 2025.
“Harga beras organik lebih tinggi dibandingkan beras konvensional. Beras putih organik dijual seharga Rp 19 ribu per kg, beras merah Rp 21 ribu per kg, sedangkan beras hitam mencapai Rp 35 ribu per kg,” tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso, Hendri Widotono menyebut perlu ada perluasan areal pertanian padi organik.
“Permintaan pasar untuk beras organik di Indonesia saja sekitar 25 ton per Minggu. Artinya sekitar 100 ton per bulan,” sebut Hendri.
Di sisi lain, petani Bondowoso hanya mampu memenuhi 40 persennya saja atau maksimal 40 ton per bulan.
“Maka dari itu kita akan perluas areal. Sementara ini sudah diterapkan di Desa Sulek Kecamatan Tlogosari dan Desa Gadingsari Kecamatan Binakal total seluas 60 hektar,” bebernya.
Melihat pangsa pasar beras organik yang tinggi, pihaknya mendorong para petani padi di Bondowoso untuk mengkonversi lahan pertaniannya ke organik.
“Sebab di masa depan memang kebutuhan produk organik sangat tinggi karena meningkatkannya literasi kesehatan masyarakat,” pungkas Hendri. [awi/beq]






