Surabaya (beritajatim.com) – Paul Munster, Pelatih Persebaya mengungkapkan perasaannya untuk pertama kali melakukan kesalahan yang membuatnya menyesal.
Melakukan protes ke wasit berujung kartu dengan mendapatkan larangan tak bisa mendampingi timnya di bench saat laga melawan Arema FC.
Pelatih berusia 42 tahun ini mengungkapkan saat itu dirinya merasa memiliki perasaan buruk untuk pertama kalinya sebagai pelatih mendapatkan dua pelanggaran dari wasit, saat pertandingan melawan PSS Sleman dan Madura United.
“Oh ya itu perasaan terburuk saya untuk pertama kalinya terjadi padahal saya melihat pelatih lain memprotes di pinggir lapangan tidak masalah dan tidak mendapat kartu kuning tapi mengapa terjadi pada saya,” ungkapnya.
Kejadian ini memang terjadi untuk pertama kalinya baginya selama menjadi pelatih di Indonesia, menyesal tentu namun pelatih asal Irlandia Utara ini tak ingin berlarut ia berpikir bagaimana memberikan strategi dan komunikasi dengan pelatih lainnya untuk tetap bermain apik tanpa dirinya di bench.
“Bagi saya itu sudah terjadi, kami tetap terus maju dengan seolah situasi yang baik meskipun tidak. Tapi sebelum lawan Arema saya berpesan kepada para pemain kita menyiapkan video untuk menganalisa supaya pemain lebih siap bermain melawan Arema fc,” imbuhnya.
Lebih lanjut disadari Munster tanpa dirinya akan banyak hal yang terjadi dalam pertandingan tersebut, hal itu terjadi beruntungnya assisten pelatih sudah mempersiapkan menu apa yang akan diolah dan mereka menjalankan hal itu.
“Saya pikir ada terlalu banyak hal yang terlewatkan dalam pertandingan ini. Meski saya tidak di bench tapi saya tetap hadir karena hal ini penting untuk saya hadir di sana. Namun, para pemain sudah tahu rencana permainan. Pelatih Uston dan staf hanya menindak lanjuti dan melanjutkan apa yang kami lakukan.
Jadi, tidak ada masalah besar dalam pertandingan itu,”tutupnya. (way/ted)






