Jombang (beritajatim.com) – Selain merendam ratusan rumah, banjir yang menerjang Dusun Beluk Desa Jombok Kecamatan Kesamben juga melumpuhkan jalur alternatif yang menghubungkan Jombang-Mojokerto.
Itu karena jalan desa tersebut terendam air dengan ketinggian antara 30 hingga 70 sentimeter. Jalur tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat. Untuk itu, sekitar 500 meter sebelum lokasi banjir, warga sudah menutup jalan menggunakan kayu.
Di papan tersebut diberi tulisan ‘Banjir Putar Balik’ kemudian ada juga tulisan cukup menggeltik ‘Wisata Tahunan’. Dusun Beluk ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Mojokerto. Tepatnya Desa Tempuran Kecamatan Sooko.
Tentu saja, ke Mojokerto menggunakan jalur alternatif ini lebih cepat. Namun mulai Senin (9/12/20240, pengguna jalan harus kecewa. Pasalnya, jalan tersebut tidak bisa dilintasi. Sebagai gantinya, mereka harus melintasi kawasan Curahmalang Kecamatan Sumobito, lalu sampailah di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto.
“Jalan Jombok tidak bisa dilalui karena banjir. Kalau mau ke Mojokerto lewat Curahmalang saja. Silakan putar balik,” kata sejumlah pemuda yang sedang berjaga di jalur tersebut memberi imbauan kepada pegguna jalan.
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan rumah di Dusun Beluk Desa Jombok Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang terendam banjir selama tiga hari, Senin (9/12/2024). Banjir disebabkan oleh meluapnya Afvour Watudakon yang melintasi dusun tersebut.
Bukan hanya permukiman, area persawahan di desa setempat juga terendam air bah. Ketinggian air bervariasi. Untuk di jalan antara 30 sampai 70 sentimeter. Posisi paling dalam di jalan bagian timur. Sedangkan bagian barat setinggi betis orang dewasa.
Sementara di dalam rumah, ketinggian air kisaran 30 sampai 40 sentimeter. Maka tidak heran, warga tidak bisa melakukan aktifitas memasak. Mereka menunggu jatah nasi bungkus yang dikirimkan oleh petugas dapur umum Dinsos (Dinas Sosial). [suf]






