Malang (beritajatim.com)– Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Roekhan, M.Pd., mengangkat tema penting: “Pengembangan Literasi Informasi Bohong untuk Masyarakat”. Acara pengukuhan berlangsung di Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19 lantai 9.
Prof. Roekhan menyoroti ancaman hoaks yang semakin meluas seiring dengan perkembangan teknologi internet dan media sosial. Ia menyebutkan bahwa informasi bohong atau hoaks tidak hanya menyesatkan, tetapi juga menjadi bentuk kekerasan simbolik seperti yang dikemukakan Pierre Bourdieu, ahli wacana kritis.
“Informasi bohong adalah bentuk kekerasan simbolik karena tampil halus namun berpotensi merusak. Bias informasi sering kali dipengaruhi oleh kepentingan pemilik media atau redaksi,” ujar Prof. Roekhan.
Hoaks, menurut Prof. Roekhan, melonjak tajam selama masa pandemi COVID-19 dan pemilihan kepala daerah (pilkada). Di masa pandemi, rata-rata 3–6 informasi bohong beredar setiap hari. Jumlah ini meningkat hingga 10 kali lipat selama pilkada, menyebabkan masyarakat bingung dan apatis terhadap politik.
Untuk memerangi hoaks, Prof. Roekhan mengusulkan langkah-langkah berbasis pendidikan formal dan nonformal. Untuk pendidikan formal, literasi informasi bohong dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah melalui pembelajaran Bahasa Indonesia.
Sedangkan untuk pendidikan nonformal, bisa melalui pelatihan literasi informasi untuk berbagai kelompok masyarakat, mulai dari remaja hingga orang tua.
“Pemberdayaan masyarakat adalah kunci. Mereka harus kritis dan mampu melindungi diri dari serangan informasi bohong,” tegasnya.
Prof. Roekhan juga menggarisbawahi peran media dalam memastikan keakuratan informasi. Ia mendorong pemerintah untuk mengadakan program pelatihan ketahanan informasi guna memperkuat daya tangkal masyarakat terhadap hoaks.
Menurutnya, ketahanan informasi memerlukan waktu dan kerja sama yang erat antara pemerintah, media, dan masyarakat. “Dengan ketahanan informasi yang kuat, Indonesia bisa bebas dari kerusakan akal akibat hoaks,” tutupnya. [dan/beq]






