Mojokerto (beritajatim.com) – Jembatan penghubung antar Desa Kebondalem dan Desa Kedunggempol di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Selasa (3/12/2024) putus. Jembatan putus diduga karena kondisi jembatan yang sudah rapuh dan adanya sumbatan sampah yang berada di bawah jembatan.
Air sungai mengerus bantalan jembatan sehingga mengakibatkan jembatan putus. Akibatnya akses masyarakat terganggu lantaran harus memutar sejauh 3,6 km melewati desa tetangga, yakni Desa Jotangan. Jembatan ini merupakan aset Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Mojokerto.
Kepala Desa (Kades) Kedunggempol, Ridwan mengatakan, jembatan penghubung dua desa tersebut putus sekitar pukul 02.30 WIB. “Mulai banjir bulan Februari 2024 lalu, jembatan sudah retak. Tadi diketahui oleh warga sekitar 02.30 WIB, sebelah utara ambrol tapi tanda-tandanya sudah retak,” ungkapnya.
Jembatan tersebut merupakan jembatan penghubung Desa Kedunggempol dengan Desa Kebondalem. Selain jembatan sudah mengalami retak, lanjutnya, ditambah arus sungai yang deras lantaran wilayah barat yakni di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto terjadi hujan deras.
“Kemarin arus juga deras dan enceng gondok sekaligus kangkung dari anak sungai titik kumpulnya di jembatan ini, pasir juga dan akhirnya ambrol. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak PUPR, besok alat berat datang dan yang penting warga masyarakat bisa lewat untuk menjalankan aktivitas,” katanya.
Karena, tegasnya, saat ini musim tanam dan agar anak-anak sekolah bisa lewat. Putusnya jembatan penghubung dua desa tersebut juga tidak berdampak hanya untuk warga di dua desa saja namun juga warga desa lain. Warga harus memutar sejauh 3,6 km melewati desa tentangga.
“Jembatan ini memang jembatan utama Dusun Kedungngudi agar bisa ke Polres Mojokerto jadi banyak yang melewati. Tapi yang paling dekat adalah Desa Kebondalem, warga harus berputar sekitar 3 kg jadi lebih jauh,” pungkasnya. [tin/beq]






