Surabaya (beritajatim.com) – Wisata Kota Lama Surabaya bakal dikembangkan menjadi kota masa depan atau “future city”. Dengan mobilitas rendah karbon dan berkelanjutan, Selasa (12/11).
Desain pengembangan Kota Lama sebagai future city telah diterima oleh Pemkot Surabaya melalui Konsorsium ke – II, Program Kota Masa Depan UK PACT [Partnering for Accelerated Climate Transition] di Gedung De Javasche Bank sore hari ini.
Kegiatan dan juga desain didapuk oleh program kemitraan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI dengan Pemerintah Inggris, yang bekerjasama dengan WRI Indonesia, ARUP, serta Vital Strategies, besama beberapa pihak lainnya.
Kepala Bappeda Litbang, Pemkot Surabaya, Irvan Wahyudrajad setelah mencermati paparan desain tersebut turut mengapresiasi.
Irfan bilang, desain ini sejalan dengan yang dilakukan Pemkot dalam mengembangan potensi wisata Kota Lama lewat peningkatan fungsionalitas bangunan bersejarah dan optimalisasi kegiatan ekonomi pariwisata, di kawasan ini.
“Kami berharap desain ini menjadi panduan untuk pembangunan berkelanjutan yang lebih kuat bagi Kota Surabaya, yang melibatkan warga dan mempertimbangkan kebutuhan semua kalangan,” terang Irvan di Gedung De Javasche Bank, Selasa sore.
Irvan menjelaskan, nanti kompleks Jalan Kasuari direkomendasikan sebagai kawasan kreatif yang memfasilitasi berbagai kebutuhan pengguna-nya atau mixed used creative compound. Yang mana akan mendukung usaha kreatif, bagi masyarakat.
“Koridor Jalan Panggung menghubungkan Pasar Pabean dengan Sungai Kalimas direkomendasikan sebagai kawasan permakanan atau kuliner, ini memanfaatkan bangunan gudang bersejarah untuk menarik wisatawan serta warga lokal,” jelas dia.
Selanjutnya, Irvan menambahkan, kawasan Jalan Karet di zona Pecinan direkomendasikan menjadi pusat tekstil dan juga garmen, dengan pengalaman ruang publik dan rekreasi. Sehingga akan lebih mengoptimalisasi zona ‘Pecinan’ yang telah lama dikenal sebagai kawasan sentral untuk pelestarian budaya serta sejarah dengan fasilitas modern.
“Desain ini tentu bakalan mendorong peningkatan integrasi transportasi umum. Termasuk juga rute Suroboyo Bus dan Feeder Wira Wiri, guna memastikan aksesibilitas lebih baik, dan inklusif,” ucap dia.
Sementara, Direktur Climate, Energy, Cities and Ocean WRI Indonesia, Almo Pradana menambahkan bahwa desain ini lahir dari kajian ilmiah dan konsultasi publik yang komprehensif.
Dan berdasar studi ketahanan partisipatif UCRA pada tahun 2023 lalu, lanjut Almo, menunjukkan bahwa mobilitas rendah emisi seperti menggunakan transportasi publik, berjalan kaki, atau bersepeda adalah kunci ketangguhan warga kota pesisir.
“Konsorsium II UK PACT berupaya meningkatkan ketahanan kota pesisir melalui desain konseptual yang adaptif, inklusif, serta mengutamakan aspek mobilitas dan juga aksesibilitas yang rendah emisi. Kami berharap desain ini akan meningkatkan aksesibilitas dan ketahanan kawasan Kota Lama di masa depan,” pungkas Almo. (ted)






