Malang (beritajatim.com) – Tingkat konsumsi daging sapi di Kota Malang cenderung meningkat. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang memastikan ketersediaan daging relatif aman.
“Ketersediaan daging relatif aman. Populasi sapi di Kota Malang sekitar 1.500 ekor. Secara kebutuhan tidak cukup sehingga perlu mendatangkan sapi dari luar kota Malang. Karena 1.500 itu kan tidak langsung dipotong semua. Karena kan itu umurnya variatif,” kata Kepala Dispangtan Kota Malang Slamet Husnan Hariyadi, Selasa, (12/11/2024).
Slamet mengatakan untuk meningkatkan populasi dan produksi daging sapi,mereka mempunyai program pantauan penyakit PMK dan LSD, kemudian pemberian vitamin, penyemprotan desinfektan di kandang hingga kawin suntik IB atau inseminasi buatan dengan menggunakan bibit sapi jenis unggul.
“Belinya di bidang peternakan. Sentra peternakan sapi di Sanan (Kota Malang) masuk dalam pembinaan kita. Kita sering melakukan sosialisasi PMK, LSD, pemberian vitamin dan desinfektan untuk penyemprotan kandang,” ujar Slamet.
Kepala Divisi Agro Perumda Tunas Kota Malang, Alan Dwi Zein Nur Yunus mengungkapkan, jumlah sapi potong yang dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan per hari mencapai 35 hingga 40 ekor sapi. Jumlah itu setara 9.250 kilogram atau hampir 10 ton daging sapi per hari.
“Jumlah sapi potong setiap bulan setelah Idul Adha mengalami peningkatan. Kalau sebelumnya 20 hingga 25 ekor per hari kini per hari 35 – 40 ekor per hari. Paling banyak peningkatan Idul Fitri dan Idul Adha sampai 100 ekor lebih sehari,” kata Alan.
Alan mengungkapkan, bahwa rekap tahun 2023 selama satu tahun mencapai 11.835 ekor sapi. Sedangkan di tahun 2024 terhitung Januari hingga Oktober mencapai 10.177 ekor sapi. Masih ada waktu 2 bulan di 2024 sehingga berpotensi melebihi kebutuhan tahun lalu.
“Kami mengambil kebutuhan sapi tidak hanya di Kota Malang tapi juga ke Kabupaten Malang. Seperti di Pasar Gondanglegi, Pasar Singosari, dan Pasar Tumpang. Selama ini insya allah cukup, karena kemungkinan hotel itu pakai daging impor. Yang jelas tukang potong (Tunas) didistribuskan ke pasar tradisional,” ujar Alan.
Untuk strategi pemenuhan kebutuhan daging sapi menghadapi program makan bergizi Presiden RI Prabowo Subianto. Perumda Tunas Kota Malang sudah melakukan kerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Termasuk dengan sejumlah perusahaan peternakan sapi.
“Jadi kalau kita untuk menghadapi program makan bergizi kami sangat mendukung. Jika membutuhkan daging sapi lebih banyak kita sudah siap kita sudah punya kerjasama dengan Gapoktan dan PT. Gapoktan yang dilibatkan dari Kabupaten Malang seperti Bumdes teman-teman belantik dan teman-teman jagal. Termasuk pembesaran sapi di Sanan,” kata Alan.
Sementara peternak sapi di Sanan, Kota Malang, Fauzan mengatakan bahwa ratusan peternak sapi di wilayah mereka fokus kepada penggemukan. Kebetulan Sanan merupakan sentra keripik tempe di Kota Malang. Mereka memanfaatkan limbah tempe untuk pembesaran sapi yang kebanyakan berjenis simental.
“Jumlahnya ratusan sapi, saya dan keluarga punya 7 ekor sapi. Kami beli di pasar hewan lalu kami besarkan dengan konsumsi limbah tempe yang berbahan kedelai. Satu ekor sapi besar kami hargai Rp25 juta. Biasanya dibeli belantik untuk disembelih di RPH lalu dijual ke pasar,” ujar Fauzan. [luc/beq]






