Jember (beritajatim.com)– Sekolah Sastra Anak resmi memulai kegiatan perdananya di Al Kautsar Education Center, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember kemarin.
Sebanyak 17 anak berusia 8-13 tahun ikut serta dalam kegiatan yang bertujuan memperkenalkan dunia sastra secara menyenangkan dan edukatif.
Intip kegiatannya!
Komunitas ini didirikan oleh Zahra Fadia Siti Haliza, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember, bersama dua rekannya Eka Julia Nur Azizah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Jember dan Amalia Zulfa Pritasari mahasiswa program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya.
Berawal dari keprihatinan terhadap sistem pendidikan formal yang minim perhatian pada sastra sebagai media pembelajaran, Sekolah Sastra Anak hadir sebagai alternatif pendidikan sastra yang dirancang khusus untuk anak-anak di Kabupaten Jember.
Zahra melihat sastra sebagai sarana yang efektif dalam mengembangkan kemampuan kritis anak melalui eksplorasi imajinasi mereka.
“Penokohan, alur cerita, dan gaya narasi dalam karya sastra anak telah disesuaikan dengan dunia imajinasi mereka. Dengan memanfaatkan sastra, anak-anak dapat memahami dan merasakan cerita dari sudut pandang mereka sendiri, sekaligus mengenal nilai-nilai sosial dan lingkungan sekitarnya,” ujar Zahra.
Sekolah Sastra Anak mengadopsi pendekatan kurikulum ala Paulo Freire, yang mendorong anak-anak untuk berpikir kritis dengan mengeksplorasi dunia imajinasi mereka. Slogan komunitas ini, “Mari Membaca dan Bersenang-Senang,” mencerminkan pendekatan belajar yang riang dan menyenangkan, berbeda dari pendidikan formal yang kerap kurang ramah anak.
Di sini, membaca tidak hanya dipahami sebagai mengeja kata-kata, tetapi juga sebagai kemampuan mengkritisi berbagai wacana dalam teks, baik dalam bentuk tulisan maupun nyanyian.
Pengajaran di Sekolah Sastra Anak juga berupaya menghilangkan batas antara guru dan murid, menciptakan suasana kelas yang bebas, interaktif, dan kreatif. Kegiatan dirancang agar anak-anak dapat mengekspresikan diri secara penuh dan berani berpendapat, sehingga mereka lebih mudah memahami jati diri mereka sendiri serta lingkungan sekitar.
Pada sesi perdana, anak-anak diajak membaca cerita pendek berjudul “Kakekku yang Perkasa” dari buku “Bebek dari Kakek” karya Bambang Joko Susilo.
Setelahnya, mereka didorong untuk saling berbagi pandangan dan menanggapi pendapat satu sama lain tentang cerita tersebut. Di akhir sesi, mereka menuliskan “surat kasih” untuk para petani Indonesia, sebagai bentuk apresiasi terhadap peran petani dalam menghidupi masyarakat yang sering kali kurang dihargai.
Zahra berharap kehadiran Sekolah Sastra Anak dapat menjadi pelopor dalam mengenalkan sastra anak di Kabupaten Jember.
“Kami berharap, dengan meningkatnya minat baca dan apresiasi sastra di kalangan anak-anak, angka literasi di Kabupaten Jember akan semakin membaik. Kami ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga kritis dalam memandang realita sosial,” tuturnya.
Namun, founder sekolah sastra anak tersebut menegaskan perjalanan ini masih panjang.
“Kami membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang kritis,” tutupnya. [aje]






