Jember (beritajatim.com) – Isu soal Partai Komunis Indonesia (PKI) yang muncul dalam pemilihan kepala daerah Kabupaten Jember, Jawa Timur, sudah tidak relevan dengan zaman. Dibawa-bawanya PKI dalam pilkada Jember mengindikasikan adanya kecemasan.
Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri rapat konsolidasi pemenangan pemilihan kepala daerah, di Ballroom Hotel Cempaka Hill, Kabupaten Jember, Selasa (5/11/2024).
“Tuduhan-tuduhan itu adalah tuduhan yang sudah tidak laku lagi, karena sejarah dan bukti-bukti empiris menunjukkan bagaimana Bung Karno ini seorang santri. Bagaimana Bu Mega juga berjuang dengan nilai-nilai ideologi Pancasila mampu membawa kemajuan Indonesia raya kita,” kata Hasto.
Hasto berpesan kepada pasangan Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman agar tidak takut. “Semua kita menyatu ke bawah. PDI Perjuagan ini bagian dari rakyat. Kader-kader PDI Perjuangan menggunakan wajah bersama rakyat. Baju bersama dengan rakyat. Identitas bersama dengan rakyat. Karena kita bersama mereka,” katanya.
“Jadi ketika ada serangan-serangan, sekali lagi itu menunjukkan mereka khawatir. Pak Hendy ingin menyelamatkan sumber daya alam yang strategis di Jember ini betul-betul digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” kata Hasto.
Isu soal PKI ini diawali dari unggahan video pidato Muhammad Fawait, calon bupati nomor urut 2, pada saat kegiatan malam refleksi peringatan Hari Santri, 21 Oktober 2024, di akun resmi Instagram dan Tiktok Gus Fawait.
Dalam pidatonya, Fawait menyinggung peran santri dan ulama dalam merebut kemerdekaan. Dia juga meminta doa dan dukungan agar bisa memimpin Kabupaten Jember.
Nada suara Fawait meninggi saat menjelaskan adanya usaha yang sangat masif dan sangat sistematis, bahkan menghalalkan segala cara, untuk menghadangnya.
“Ada upaya yang begitu besar, ingin menghadang santri memimpin Kabupaten Jember dengan menebar hoaks, dengan mengolok-olok, dengan memfitnah, dengan membuat sebuah berita-berita yang keji itu,” katanya.
“Saya kok kayaknya ingat seperti Gerakan 30 S PKI yang ingin menghabisi para ulama, yang ingin menghabisi para kiai, yang ingin menghabisi para santri di republik ini. Tapi saudara-saudara, saya tahu, bahwa kita semua yang berkumpul di tempat ini tidak akan rela, ketika santri dibegitukan. Maka tidak ada kata lain kecuali lawan dan kita harus menang atau menang mutlak,” kata Fawait.
Pidato tersebut memantik reaksi dari masyarakat. Kurang lebih 20 orang warga anggota Laskar Santri Nusantara (LSN) mendatangi kantor Bawaslu Jember, di Jalan Dewi Sartika, Rabu (30/10/2024). Para pendukung Gus Firjaun ini menuntut Bawaslu Jember segera memeriksa Fawait karena pidatonya tersebut berpotensi menciptakan kegaduhan dan fitnah.
Sementara itu, Dima Ahyar, sekretaris tim pemenangan Muhammad Fawait-Djoko Susanto, menyatakan belum ada panggilan klarifikasi dari Bawaslu Jember. “Kami yakin bahwa dalam perihal itu, tidak ada sesuatu yang dilanggar,” katanya. [wir]







3 Komentar
Kali mau menang ya berusaha dg jujur jng provokator lahhh…. spapun bolwh nyaleg jg jdi cagub cabup asal mumpuni bukan dg jln provokator lhhh.. gda yg mnghalangi itu mngada2 cara licik jusyru cara pki klo provokator yg gda mngada2
Calon bupati jng jdi provokator.. adu program unt ralyat jng adu domba umat islam.. jng mngjalslkn sgala cara kyak pki malahn klo bgtu
Isu PKI jgn dijadikan komoditi untuk bisa pilkada, yg ngobral isu PKI bs dituduh dirinyalah PKI, krn isu ini muncul dri buah pikiran yg mengucapkan dan dari mulut mereka. Bicara saja yg jls, tegas, jujur, santun, dan beretika biar aman dan damai