Blitar (beritajatim.com) – Acara debat ke 2 Pemilihan Bupati (Pilbup) Blitar yang digelar pada Senin (5/11/2024) dihentikan paksa. Perselisihan soal kertas visi-misi menjadi penyebab debat ke 2 Pilbup Blitar dihentikan.
Pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Blitar nomor urut 1, Rijanto-Beky melayangkan protes keras saat sang rival yakni Rini-Ghoni membaca kertas berisi visi-misi. Bahkan Rijanto-Beky walk out dari acara debat tersebut.
Pasangan Rijanto-Beky menuding sang rival Rini-Ghoni curang dalam debat tersebut. Terkait itu, Rini-Ghoni pun angkat bicara.
Menurut Rini Syarifah-Abdul Ghoni kertas yang dibaca saat diatas podium debat merupakan print out dari KPU.
” Ini print out dari KPU, dari tata tertib pertama hingga ke tiga diperbolehkan bawa visi-misi,” kata Rini-Ghoni, pasangan calon Bupati Blitar, Selasa (5/11/2024).
Peristiwa ini bermula saat Rini-Ghoni sedang menyampaikan visi-misi di sesi pertama debat ke dua Pilbup Blitar. Ketika Paslon 02 baru menyampaikan visi misi,pihak paslon 01 terlihat emosi karena paslon 02 menyampaikan data data angka pencapaian, kemudian menuduh bahwa pasangan 02 mencontek.
Bahkan Cawabup nomor urut 1 yakni Beky Herdihansah melontarkan protes yang cukup keras pada saat itu. Usai melakukan interupsi, Rijanto-Beky terlihat turun dari panggung acara. Setelah itu acara debat ke 2 Pemilihan Bupati Blitar langsung dihentikan.
“ Interupsi moderator, ini gak netral ini,cukup-cukup sudah terima kasih,” ucap Beky memotong penyampaian visi-misi paslon nomor urut 2.
Sementara itu Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Blitar juga angkat bicara soal itu. Menurut Sugino, Ketua KPU Kabupaten Blitar memang ada perselisihan perihal kertas berisi visi misi.
KPU Kabupaten Blitar pun sebenarnya sudah melakukan mediasi. Namun dari kedua pasangan calon tidak ada titik temu dan berujung pada penghentian acara.
“Tadi sudah kita sampaikan saat wawancara, ada paslon yang protes karena ada yang bawa kertas diluar yang difasilitasi KPU, sehingga kita langsung mediasi bersama masing-masing LO paslon, dan lama tidak ada titik temu, sehingga kondisi semakin tidak kondusif, kalau ini dilanjutkan resikonya lebih besar sehingga jajaran KPU sepakat untuk menghentikan debat, karena itu keputusan yang terbaik,” ucap Sugino. [owi/aje]






