Jember (beritajatim.com) – Tingkat pengangguran di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi titik perbedaan pendapat antara pasangan calon nomor urut 1 dan pasangan calon nomor urut 2, dalam debat perdana antarkandidat yang digelar Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember, Jawa Timur, di New Sari Utama Ballroom, Sabtu (26/10/2024) malam,
Muhammad Fawait, calon bupati nomor urut 2, menyebut tingkat pengangguran di Jember meningkat. Sementara Hendy Siswanto, calon nomor urut 1, menyatakan sebaliknya. Keduanya sama-sama mengklaim berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
“Jember ini tidak boleh kita ngomong kebohongan. Buka data, sampaikan nanti. Di debat ini kita diuji kebenaran. Bagaimana kita mau menjadi pemimpin kalau tidak menyampaikan kebenaran? Maka dari itu BPS jawabannya,” kata Hendy.
Namun Fawait bersikukuh telah menggunakan data BPS yang benar. “Nuduh saya lagi tidak apa-apa, Pak. Saya memang kebiasaan dituduh kayaknya, Pak. Saya memakai data Badan Pusat Statistik. BPS. Dan itu bisa diakses siapapun bahwa pengangguran di Jember makin lama makin naik,” katanya.
Fawait lantas mengatakan, bahwa biasa memanfaatkan data BPS dan Bank Indonesia selama kuliah jurusan ekonomi. “Saya S1, S2, S3 ekonomi pakai data BPS atau data bank sentral,” tegasnya.
Lantas siapakah yang benar: Hendy atau Fawait? Benarkah angka pengangguran di Jember meningkat?
Berdasarkan hasil cek fakta Beritajatim.com dengan mengacu pada situs resmi Badan Pusat Statistik https://jatim.bps.go.id, tingkat pengangguran di Kabupaten Jember sejak 2021 cenderung menurun. Tingkat pengangguran terbuka pada 2021 tercatat 5,44 persen, yang kemudian turun menjadi 4,06 persen pada 2022 dan 4,01 pada 2023.
Bahkan, berdasarkan data BPS pula, tingkat pengangguran terbuka Jember lebih baik daripada Banyuwangi yang mencatatkan angka 5,26 persen pada 2022 dan 4,75 persen pada 2023.
Jadi berdasarkan hasil cek fakta, klaim Fawait yang menyatakan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Jember meningkat adalah tidak benar. [wir]





