Jember (beritajatim.com) – Banyak faktor yang menyebabkan anak putus sekolah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Muhammad Balya Firjaun Barlaman, calon wakil bupati nomor urut 1, menampik angka lama sekolah di Jember dibandingkan dengan kota lain.
“Ada banyak faktor anak putus sekolah. Ada faktor kemiskinan, ada faktor passion anak itu memang ingin bekerja,” kata Firjaun dalam debat perdana antarkandidat yang digelar Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember, Jawa Timur, di New Sari Utama Ballroom, Sabtu (26/10/2024) malam.
Pemkab Jember sudah berupaya memperlancar akses pendidikan bagi warga. “Infrastruktur sudah bagus. Dan keadaan anak yang kemudian putus sekolah karena ingin bekerja, kita bekali dengan life skill,” kata Firjaun.
Firjaun mengatakan, kondisi Jember tidak bisa dibandingkan dengan kabupaten lain. Data BPS 2023 menunjukkan harapan lama sekolah di Jember adalah 13,49. Rata-rata lama sekolah 6.01. Sementara Bondowoso yang 6,36, Lumajang 7,14, dan Situbondo 6,9.
“Dari jumlah penduduk saja sangat berbeda. Tentu ini tidak apple to apple. Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar anak-anak yang putus sekolah karena faktor kemiskinan, sekolah ini kita gratiskan,” kata Firjaun.
Selain itu, Firjaun menekankan pemberdayaan pesantren dengan membawa pengusaha-pengusaha ke sana untuk menularkan kemampuan wirausaha. “Kami mendorong semua warga Jember untuk tidak berhenti dalam menimgkatkan kemampuan dan pendidikan,” katanya.
Djoko Susanto, calon wakil bupati momor urut 2, tidak puas mendengar penjelasan Firjaun, karena tidak menyebutkam peran pondok pesantren dalam menekan angka putus sekolah.
“Pondok pesantren punya peran sangat strategis dan sudah sangat teruji, bahkan jumlahnya di Jember melebih jumlah desa. Kami sepakat memberikan beasiswa santri untuk mengptimalkan peran pesantren dalam rangka mendorong capaian rata-rata lama sekolah, sekaligus reward Hari Santri,” katanya.
Tema debat perdana ini adalah Penguatan Pembangunan dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Kabupaten Jember. Ada lima subtema yang diambil, yakni kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, keberlanjutan ekologi dan energi, dan pengangguran maupun lapangan pekerjaan.
Dua pasangan kandidat yang berhadapan adalah pasangan petahana Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman diusung PDI Perjuangan, dan Muhammad Fawait berpasangan dengan Djoko Susanto dan diusung koalisi Gerindra, PKB, PKS, Nasdem, Golkar, PPP, dan PAN. [wir]






