Surabaya (beritajatim.com)– Viralnya karangan bunga dan ucapan selamat dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Airlangga (Unair) kepada pemerintahan Prabowo-Gibran mendapat perhatian serius dari kalangan alumni.
Yohan Wahyu, mantan Presiden BEM FISIP Unair periode 1999-2000, menyatakan bahwa respon terhadap kasus ini perlu proporsional dan tidak emosional, mengingat konteks dan kondisi politik yang telah berbeda dari era reformasi.
Yohan menyoroti penggunaan diksi kontroversial oleh BEM yang sebenarnya bukan hal baru. Menurutnya, di masa reformasi dulu, hal serupa juga pernah terjadi dengan penggunaan diksi yang dianggap melanggar norma kesopanan saat menyuarakan kritik terhadap Orde Baru.
Namun, perbedaan yang mencolok saat ini adalah keberadaan media sosial yang mempercepat penyebaran informasi dan beragamnya pandangan politik di masyarakat.
“Rasanya ahistoris jika kita bandingkan situasi sekarang dengan era reformasi dulu. Dulu, hampir semua suara bersatu menentang Orde Baru. Sekarang situasinya jauh lebih kompleks, dengan masyarakat yang tidak lagi homogen,” ujar Yohan kepada beritajatim.com, Minggu (27/10/2024).
Yohan juga menilai tindakan BEM FISIP ini wajar sebagai bentuk ekspresi mahasiswa, meski mereka tampak kurang mempertimbangkan dampak politisnya. Ia menekankan pentingnya dialog sebagai solusi terbaik bagi permasalahan ini. Menurutnya, membekukan BEM di era liberalisasi politik saat ini adalah langkah yang berlebihan.
“Dekanat dan BEM FISIP sebaiknya bertemu dan berdialog untuk mencari titik temu. Dialog yang jujur dan terbuka adalah jalan elegan menuju solusi yang adil bagi kedua belah pihak,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar kritisisme kampus tidak dimatikan dengan sikap yang tidak proporsional. Yohan menegaskan bahwa di tengah banyaknya komponen kekuatan yang terlibat dalam kekuasaan, kampus masih menjadi harapan terakhir sebagai kekuatan penyeimbang.
“Kampus harus tetap menjadi oposisi yang berbasis data dan nurani, bukan sekadar kebencian,” pungkas Yohan. [asg/but]






