Surabaya (beritajatim.com) – Surabaya Skin Centre menyelenggarakan seminar publik di The Southern Hotel Surabaya, bertema “Mengelola Stres dan Kekambuhan pada Psoriasis dan Dermatitis Atopik”.
Seminar ini untuk memberikan pemahaman lebih baik mengenai penanganan dan perawatan kedua penyakit tersebut, serta inovasi terbaru dalam terapi psoriasis yang direncanakan untuk tahun 2024.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yakni Prof M. Yulianto Listiawan, yang membahas psoriasis, penyakit autoimun yang mempengaruhi sel-sel kulit, serta Dr Ni Putu Susari Widianingsih, yang membahas dermatitis atopik atau eksim dan terapi terbaru, termasuk Baricitinib.
Dalam paparannya, Prof Yulianto menyampaikan bahwa psoriasis merupakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel kulit sehat.
“Penyakit ini dapat dipicu oleh sengatan matahari yang parah atau penggunaan obat-obatan tertentu, seperti kortikosteroid,” jelasnya, ditulis Rabu (23/10/2024).
Bahkan, lanjut dia, pada 2 Oktober 2024 lalu sudah terlaksana seminar dan workshop 20th International Psoriasis Council di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat dalam bidang dermatologi, khususnya dalam penanganan psoriasis.
Adapun sejumlah inovasi dalam penanganan psoriasis pada tahun 2024 di antaranya uji coba fase 3 untuk penghambat IL-23 oral, data fase 4 baru tentang penanganan psoriasis kepala dan leher dengan tapinarof topikal.
Sementara itu, Putu Susari menjelaskan bahwa dermatitis atopik atau yang juga dikenal sebagai eksim, adalah peradangan kulit yang ditandai dengan gatal, kemerahan, kekeringan, dan pecah-pecah.
“Psoriasis dan dermatitis atopik ini, meski tidak menular, namun dapat menyebabkan gejala serupa seperti gatal, kemerahan, dan pengelupasan yang berdampak pada kesehatan mental penderitanya,” katanya.
Kondisi ini dapat berlangsung lama, bahkan bertahun-tahun. Putu menyebut, dermatitis atopik kerap muncul pada area kulit yang memiliki lipatan, seperti dahi, area sekitar mata dan telinga, sisi leher, dalam siku, belakang lutut, hingga area selangkangan.
“Dermatitis atopik tidak menular dan biasanya muncul pada bayi atau balita, tetapi juga bisa terjadi pada remaja atau dewasa,” terangnya.
Menurutnya, kedua penyakit kulit ini memiliki gejala yang mirip dan sulit dibedakan, tidak menular tapi sangat menganggu, terkadang terjadi komplikasi jika tidak ditanggani dengan baik dan juga dapat merusak emosi, kesehatan mental.
Sekedar informasi, seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menjelang ulang tahun klinik yang ke-18 sekaligus untuk memperingati Hari Psoriasis Sedunia pada 29 Oktober. [ipl/but]






