Jember (beritajatim.com) – Dua alumnus SMA Negeri 1 Kabupaten Jember, Jawa Timur, masuk Kabinet Merah Putih dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Keduanya sama-sama berlatar belakang militer.
Mereka adalah Kepala Staf Kepresidenan Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Anto Mukti Putranto dan Wakil Menteri Sekretaris Negara Marsekal Muda TNI (Purnawirawan) Bambang Eko Suharyanto.
Lahir di Jember, Jawa Timur, pada 26 Februari 1964, Anto masuk SMA Negeri 1 Jember pada 1980. Dia dikenang sebagai sosok yang rajin dan pendiam. “Tapi dia aktif dalam kegiatan-kegiatan di sekolah,” kata Mohammad Dadang Eko Antoro, sahabat Anto semasa Sekolah Dasar Negeri Jember Kidul dan SMAN 1, Selasa (22/10/2024).
Anto suka bergelut dengan buku. Namun jangan keliru. Anto juga senang berolahraga dan aktif di organisasi pecinta alam siswa SMAN 1 Jember, Sispena. “Dia mengajak saya ikut Sispena, tapi saya tidak mau. Saya dulu geng-gengan,” kata Dadang, tertawa.
Sujai, pensiunan guru Bimbingan Konseling SMAN 1 Jember yang pernah menjadi pembina Sispena, bercerita bagaimana Anto menjadi bagian dari rombongan siswa yang ikut dalam pendakian di Gunung Semeru. “Memang waktu itu, ekstrakurikuler yang paling banyak pesertanya adalah Sispena,” katanya.
Di Sispena, Sujai mengajarkan pentingnya perencanaan matang sebelum mendaki. “Kalian yang ingat orang tua, ingat ini, ingat itu, lebih baik tidak usah naik. Kalau masih ragu-ragu, tidak usah naik. Yang naik adalah yang membawa bahan untuk kebutuhan dirinya sendiri, seperti bahan makanan. Medan saat itu cukup berat,” katanya.
Aktivitas Anto di Sispena maupun sejumlah kegiatan lainnya di sekolah sebenarnya tidak mengherankan. “Sejak SD, Anto memiliki perhatian besar kepada teman-temannya. Dia tidak mudah lupa dengan teman, tidak sombong,” kata Dadang.
Dadang adalah sahabat setia yang menemani Anto saat terpanah asmara. Semula, Dadang hanya diminta Anto menjadi kurir surat kepada sang pujaan hati. Namun sesekali, dia diminta pula mengantar Anto ke rumah sang kekasih yang kelak menjadi istri.
Lulus sekolah, Anto dan Dadang sama-sama diterima di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Tugas negara memisahkan mereka. Mereka baru bertemu lagi saat sama-sama bertugas di Papua pada awal 2000.
“Saya datangi dia, dan saya kasih informasi di sana. Alhamdulillah dia berhasil waktu penugasan di sana. Dia memang gigih,” kata Dadang.
Menurut Dadang, Papua adalah daerah yang unik. “Sukunya banyak. Tapi anak kecil di sini sudah bisa berbahasa Indonesia. Kami perlu sabar, tidak bisa emosional, harus telaten. Anto telaten,” kata pria yang memiliki pangkat terakhir letnan kolonel tersebut.
Karier kemiliteran Anto melesat. Selain digembleng di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) dan Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI), dia juga bergabung dengan Joint Readiness Training Center di Amerika Serikat pada 1997 dan misi perdamaian PBB di Lebanon pada 2007-2008.
Terpilihnya Anto menjadi Kepala Staf Kepresidenan RI membuat bangga sahabatnya Tri Mulyani. “Sepertinya di mana pun berada, dia ingin menjadi yang terbaik,” katanya.
Tri senang Anto masih ingat dengan kawan-kawan sekolah kendati sudah berhasil. “Kalau dia datang ke Jember, mengajak teman-teman SD, SMP, SMA untuk bertemu bareng-bareng. Terakhir setelah pandemi, kami bertemu di Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso,” katanya.
Berbeda dengan Anto, Bambang Eko Suharyanto lebih populer semasa sekolah. Sujai ingat bagaimana mantan siswanya itu lebih populer dengan sebutan ‘Totok Kluwek’. “Dulu panggilannya Totok Kluwek. (Buah) Kluwek kan hitam. Anak SMA mana saja pasti mengenalnya,” kata Sujai tertawa geli mengenang masa-masa itu.
Lulus SMA, Bambang diterima di Akabri Angkatan Udara. “Cita-citanya memang di militer. Tekadnya kuat. Dulu sepertinya anak-anak SMA 1 itu masuk Akabri. Angkatan Pak Totok kalau tidak salah, ada empat orang yang diterima,” kata Sujai.
Sebagaimana adik kelasnya Anto Mukti Putranto, karier militer Bambang juga melesat. Setelah sempat menduduki sejumlah posisi di Kementerian Pertahanan, dia diangkat menjadi Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Sosial pada 2018.
Bambang juga ditempa oleh pendidikan di luar negeri, antara lain di Amerika Serikat, Australia, dan Belanda. Soal perjalanan di luar negeri ini, Sujai ingat ada cerita lucu yang dikisahkan mantan muridnya itu saat reuni angkatan.
“Waktu kuliah ke luar negeri, dia ketemu orang Indonesia di luar negeri dan ditanya: ‘kamu dari Madura ya?’ Cengkoknya adalah cengkok Inggris Madura. Kuat sekali cengkoknya,” kata Sujai.
Sujai bangga dua mantan muridnya bisa dipercaya Prabowo. “Saya bangga anak didik saya jadi orang di Istana,” katanya. Dia berharap mereka bisa menjalankan tugas dengan baik dan membuat kondisi Indonesia lebih baik dan maju. [wir]







2 Komentar
Untuk Marsda Bambang Eko Suharianto ada beberapa informasi yg salah dan perlu di klarifikasi. Beliau bukan alumni akademi militer tetapi alumni Fakultas Hukum Universitas Jember kemudian diterima di Sekolah Perwira Angkatan Udara.
Betul