Malang (beritajatim.com) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara kembali menggelar prosesi wisuda ke-76 pada Sabtu (19/10/2024), yang dihadiri oleh mahasiswa, keluarga, serta seluruh civitas akademika. Acara ini dilangsungkan di halaman depan kampus dengan penuh makna, tidak hanya sebagai momentum kelulusan, tetapi juga sebagai ajang penegasan pentingnya menumbuhkan nilai persatuan di Indonesia.
Ketua STIE Malangkuçeçwara, Drs. Bunyamin, M.M., Ph.D, saat momen ini menyanyikan lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Sud. Ia mengajak seluruh wisudawan untuk ikut bernyanyi bersama.
Dalam sesi wawancara Drs. Bunyamin menyampaikan maksud ajakan menyanyi itu sebagai upaya untuk menekankan bahwa pendidikan di perguruan tinggi bukan hanya soal membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan persatuan bangsa. Kampus bertagline Harmony in Diversity ini bisa menjadi miniatur Indonesia yang multikultural karena mahasiswa dari berbagai daerah di Tanah Air.
“Seringkali kita mendengar NKRI harga mati, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita terus menumbuhkan nilai-nilai persatuan. Kebanggaan akan bahasa dan bangsa perlu dipupuk di kalangan mahasiswa yang datang dari berbagai latar belakang budaya,” ungkap Bunyamin.
STIE Malangkuçeçwara telah menjadi contoh nyata dari harmoni multikultural. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia hidup berdampingan dan saling menghargai perbedaan. Dengan tagline Harmony in Diversity, kampus ini berhasil menciptakan suasana yang kondusif bagi pertumbuhan nilai-nilai persatuan.
“Persatuan dan kebangsaan harus dimulai dari kampus. Di sini, banyak mahasiswa dari berbagai daerah, dan kami berusaha menciptakan suasana di mana mereka merasa bangga dengan tanah air mereka. Di sinilah, kita belajar bagaimana menghargai dan merangkul perbedaan,” lanjut Bunyamin.
Kegiatan wisuda ini tidak hanya sekadar seremonial kelulusan, tetapi juga memuat nilai-nilai sakral. Ketua STIE Malangkuçeçwara menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa sebagai simbol kebersamaan dan persatuan bangsa, mengajak para lulusan untuk selalu menjaga semangat persatuan dalam langkah karier mereka ke depan.
Salah satu lulusan berprestasi yang turut menjadi sorotan dalam acara tersebut adalah Kharisma Nur Shinta, atau yang akrab disapa Kayis. Ia telah berhasil mendapatkan pekerjaan sebelum menyelesaikan studinya.
“Saya tidak memiliki nilai terbaik, tetapi saya berhasil bekerja sebelum lulus, berkat keterampilan yang saya dapatkan di kampus ini,” ujar Kayis. Ia kini bekerja sebagai konten kreator dan host live streaming, pekerjaan yang sudah ia tekuni sejak semester tujuh.
Kayis juga menyampaikan pesan inspiratif kepada rekan-rekannya, khususnya penerima KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah, untuk tidak menyerah meskipun berasal dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu. “Semangat adalah kunci. STIE Malangkuçeçwara membuka peluang bagi siapa saja yang mau berjuang, tanpa memandang latar belakang,” ujarnya.
Ketua STIE Malangkuçeçwara juga menekankan pentingnya employability atau kemampuan lulusan untuk terserap di dunia kerja. “Sebanyak 16% lulusan kami sudah bekerja sebelum wisuda, dan angka sebenarnya mungkin lebih tinggi. Ini berkat pembinaan yang tidak hanya fokus pada hardskill, tetapi juga softskill, serta sikap yang kami tanamkan selama masa studi,” jelasnya.
Dengan perubahan nomenklatur gelar dari S.E (Sarjana Ekonomi) menjadi S.Ak (Sarjana Akuntansi) dan S.MBis (Sarjana Manajemen Bisnis), STIE Malangkuçeçwara berupaya memastikan bahwa lulusan mereka lebih mudah diterima di pasar kerja. “Kami mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka, sehingga mereka siap berkontribusi di masyarakat tanpa mencoreng nama almamater,” pungkasnya.
STIE Malangkuçeçwara, dengan segala keunggulannya, terus berkomitmen untuk tidak hanya mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki rasa cinta terhadap bangsa dan negara, serta mampu menjaga persatuan dalam keberagaman. (dan/ian)






