Jombang (beritajatim.com) – Kepulangan jemaah umrah asal Desa Genukwatu Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang disambut haru keluarga, Senin (14/10/2024). Jemaah ini terbilang istimewa, mereka berangkat bersama-sama satu desa yang jumlahnya 35 orang, dari hasil menabung.
Bus ukuran besar berjalan lambat-lambat ketika mendekati kantor Ranting NU (Nahdlatul Ulama) Desa Genukwatu. Bus bernopol S 7413 UW ini kemudian berhenti tepat di pintu gerbang kantor Ranting NU tersebut.
Pintu bus terbuka perlahan. Sejumlah orang berpakaian batik warna biru turun dari bus. Jemaah perempuan mengenakan kerudung panjang warna senada, sedang yang pria mengenakan peci hitam dipadu batik biru. Ada pula yang mengenakan peci putih dipadu jas biru.
Di depan kantor Ranting NU puluhan orang sudah berjajar memanjang. Perempuan sebelah kanan, laki-laki sebelah kiri. Mereka mengucapkan selamat datang atas kedatangan jemaah yang pulang dari ibadah umrah.
Hartatik (51), salah satu jemaah dengan telaten menyalami deretan penyambut itu satu persatu. Namun cairan bening di mata Hartatik langsung meleleh ketika bersalaman dengan Lilik Ernawati (33) yang sedang menggendong anaknya.
Hartatik dan Lilik bersalaman cukup lama, lalu berpelukan. Keduanya terisak. Hartati dan Lilik yang merupakan ibu dan anak ini sama-sama menangis haru. Lilik bersyukur ibunya pulang dari tanah suci dengan selamat. Begitu juga dengan sang ayah, Marjani (61). “Alhamdulillah, orangtua saya kembali ke kampung halaman dengan selamat,” kata Lilik.
Mereka kemudian memasuki aula kantor ranting NU Genukwatu. Bukan hanya Hartatik, tapi seluruh jemaah yang jumlahnya 35 orang juga ikut serta. Mereka duduk rapi di kursi yang sudah disiapkan.
Keluarga yang menyambut kedatangan mereka juga ikut memasuki aula. Prosesi penyambutan Jemaah umrah dilakukan oleh pengurus Ranting NU Desa Genukwatu. Sambutan selamat datang disampaikan oleh Rais Syuriah Pengurus NU Ranting Genukwatu KH Zainul Mustofa.
“Saya ucapkan selamat dating di kampung halaman. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh jemaah yang menunaikan ibadah umrah melalui Ranting NU Genukwatu. Semoga ini semakin meningkatkan amal ibadah kita,” katanya.
Menabung Mulai Sepuluh Ribu Rupiah

Umrah bareng satu desa yang dilakukan oleh warga Desa Genukwatu ini cukup inspiratif. Pasalnya, mereka menabung setiap hari dengan nominal paling kecil Rp10 ribu. Hal itu pula yang dilakukan oleh Basuki Rahmat (55), penjaga sekolah SD yang berangkat bersama sang istri Sundiyah (40).
Basuki bersyukur bisa umrah bersama tetangganya satu desa. Baik berangkat maupun pulang semuanya selamat. Basuki adalah seorang penjaga SD, sedangkan istrinya jualan kue di sekolah tersebut. Namun tekadnya yang kuat, keduanya bisa menunaikan ibadah umrah.
“Saya menabung selama empat tahun. Begitu juga dengan istri saya. Nilai tidak pasti, sesuai dengan kondisi. Saat menjelang keberangkatan agak banyak karena untuk mencukupi biaya umrah yang mencapai Rp32,5 juta. Kadang satu bulan Rp2 juta. Tapi awalnya hanya ribuan,” kata Basuki.
Bersama tetangga satu desa adalah ibadah yang sangat menyenangkan. Karena mereka bisa saling melindungi. Para lelaki berada di depan dan belakang, sedangkan yang perempuan terlindungi di tengah.

Para penyambut yang nampak sibuk di halaman kantor Ranting NU Genukwatu adalah Sudirman. Sejak pagi Sudirman mondar-mandir di halaman kantor tersebut. Dia juga menyiapkan kursi untuk para keluarga yang menyambut kedatangan jemaah umrah.
Maklum saja, Sudirman merupakan salah satu panitia sekaligus penggagas acara umrah bersama satu desa tersebut. Saat itu Sudirman masih menjabat sebagai Kades (Kepala Desa). “Ibadah umrah secara bersama-sama, pada tahun ini merupakan periode kedua. Pertama pada 2023,” kata Sudirman.
Waktu itu yang berangkat sebanyak 55 orang dari beberapa dusun di Desa Genukwatu. Sedangkan tahun 2024 ini yang berangkat ke tanah suci sebanyak 35 orang. “Alhamdulillah sudah berlangsung dua tahun ini. Yang ikut menabung ada 200 orang,” lanjutnya.
Sudirman lalu menceritakan awal mula program umrah bersama tersebut. Menurut pria bertubuh gempal ini, ide untuk berangkat umrah bersama-sama, awalnya merupakan candaan. Saat itu, dia bersama puluhan warga melakukan perjalanan ke Jawa Tengah untuk ziarah ke makam salah satu wali dari Walisanga.
Sudirman yang ikut dalam rombongan, diminta untuk menyampaikan sambutan. Nah, dalam sambutannya Sudirman mengajak para peziarah Walisanga berdoa agar nantinya juga bisa berangkat umrah secara bersama-sama.
Harapan Sudirman diamini oleh jemaah ziarah. Mereka pun berdoa bersama agar rombongan itu bisa berangkat ke tanah suci secara bersama-sama. “Waktu itu tahun 2017. Semuanya mengamini agar bisa umrah ke tanah suci,” katanya.
Sepulang ziarah makam Walisanga, gagasan untuk bisa berangkat umrah bareng-bareng makin menguat. Dari perbincangan ke perbincangan, ungkap Sudirman, muncul ide untuk membuka tabungan haji dan umrah bagi warga Desa Genukwatu, khususnya yang rutin mengikuti rombongan ziarah Walisanga.

“Nah, akhirnya program tabungan umrah ini ditangani oleh Pengurus Ranting NU Genukwatu. Ada ratusan warga yang ikut menabung. Pada Tahun 2018, pembukaan tabungan haji dan umrah kemudian diwujudkan bersama-sama,” kata Sudirman.
Pembukaan besaran tabungan, kata Sudirman, sangat bervariasi. Ada yang membuka dengan jumlah Rp10 ribu, Rp200 ribu, hingga Rp500 ribu. Jumlahnya tidak dibatasi, berapapun diterima.
“Karena memang pikiran kita dari awal, kalau rutin Rp10 ribu per hari, maka satu bulan ketemu Rp300 ribu. Alhamdulillah, ini sudah menginjak tahun kedua. Pada 2023 sebanyak 55 orang yang umrah, sedangkan tahun ini 35 jemaah,” ungkap Sudirman. [suf]






