Surabaya (beritajatim.com) – Calon Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan pandangannya mengenai tantangan pendidikan di era digital saat pelantikan Pelajar Daerah (PD) Pelajar Islam Indonesia (PII) di Gedung Sawunggaling, Balai Kota Surabaya, Sabtu (12/10/2024).
Emil menyoroti bagaimana perubahan kebiasaan anak muda akibat perkembangan teknologi telah memengaruhi eksistensi organisasi pelajar.
“Saya mampir sebentar pagi ini karena hendak mengejar pesawat di bandara, hanya ingin mengucapkan selamat kepada Pelajar Islam Indonesia, organisasi yang punya sejarah luar biasa,” ujarnya.
Mantan Bupati Trenggalek ini juga menekankan bahwa organisasi seperti PII harus terus beradaptasi di tengah gempuran media sosial dan digitalisasi. Menurut Emil, media sosial kini menjadi alternatif utama bagi anak muda dalam berjejaring, sehingga organisasi pelajar harus menghadapi persaingan dengan aktivitas lain yang lebih menarik bagi generasi muda.
“Sekarang badan organisasi lebih dari sekadar medsos, dan ada banyak kegiatan lain yang menjadi ‘saingan’ dalam tanda kutip,” jelas Emil.
Pada kesempatan tersebut, Emil juga membahas tema “Adaptasi Belajar Terhadap Akselerasi Pendidikan dalam Berdaya Saing di Era Society 4.0”, di mana ia menekankan pentingnya strategi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan akademis, tetapi juga pengetahuan umum yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Emil juga berbagi pengalamannya ketika menjadi perwakilan Asia di Amerika pada 2018, saat ia mempelajari fleksibilitas sistem pendidikan di negara maju. Namun, ia menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa serta merta meniru sistem tersebut mengingat perbedaan kondisi sosial dan ekonomi.
Lebih lanjut, Emil menyoroti tantangan dari kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT yang dapat menyelesaikan tugas secara cepat. “Saya butuh waktu seminggu, tapi ChatGPT bisa melakukannya dalam waktu kurang dari satu menit,” ujarnya.
Emil juga mengkritik sistem pendidikan yang terlalu fokus pada hafalan dan ujian tanpa memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. “Anak-anak kita dilatih untuk rajin belajar, hafalkan isinya, jawab pertanyaannya, lulus dengan nilai baik. Tapi, apakah ini cukup di era sekarang?” pungkas Emil. [asg/beq]






