Banyuwangi (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi mencatat terdapat 10 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan. Kecamatan itu di antaranya, Wongsorejo, Bangorejo, Tegaldlimo, Singojuruh, Srono, Cluring, Siliragung, Pesanggaran, Kabat, dan Glagah.
Ancaman akibat dampak kekeringan itu, di antaranya menipisnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi minum warga. Bahkan kekeringan juga mengancam lahan pertanian.
Penyebabnya, cuaca panas yang terjadi terus menerus dan memasuki musim kemarau. Sehingga sebagian wilayah di Banyuwangi mulai mengalami kekeringan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi Danang Hartanto menjelaskan, pihaknya mengantisipasi kekeringan dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak. Tindakan itu berlangsung sejak 22 Juli hingga 30 September 2024. Total air bersih yang telah disalurkan sebanyak 275 ribu liter.
“Karena saat ini musim kemarau masih berlanjut, pendistribusian akan dilanjutkan sampai 20 November mendatang” kata dia, Minggu (13/10/2024).
Danang menyebut, pendistribusian air bersih tidak hanya ke 10 kecamatan terdampak. Namun, pihaknya juga melayani permintaan ke sejumlah daerah lainnya.
Kami juga melayani permintaan air bersih dari wilayah yang mengajukan permohonan air bersih baik desa maupun kecamatan. Air yang disalurkan hasil kerja sama dengan PUDAM Banyuwangi,” ujar Danang.
Selain itu, kata Danang, hingga saat ini pihaknya terus memantau daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Terutama, bagi warga yang kini terdampak kekurangan air bersih. “Kami terus memonitor daerah-daerah mana yang perlu disuplai air,” imbuhnya.
Selain itu, dalam rangka mengantisipasi kekeringan air di persawahan, pemkab melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan menerapkan sistem gilir untuk petani. Sistem gilir ini salah satunya dilakukan Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Wilayah Bangorejo.
Sistem gilir ini diterapkan dengan melakukan sinkronisasi antara Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa), PPA, dan Korsda. [rin/suf]






