Yogyakarta (beritajatim.com)– Barusaja kita memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2024 kemarin.Dengan adanya peringatan ini kita diingatkan akan masih terus merebaknya kasus yang berkaitan dengan kesehatan mental utamanya bagi remaja.
Angka stress remaja terus meningkat. Stres berkepanjangan membuat depresi berat, jika tidak terkontrol serta merasa putus asa tak ada harapan hidup bukan tak mungkin remaja nekat melakukan aksi bundir.
Mental yang sakit tak hanya melulu pada kasus bullying saja meski kasus bullying kalangan remaja masih tetap tinggi. Namun saat banyak factor penyebab remaja depresi berat. Dari sekian banyak faktor yang ada, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Nia Kusuma Wardhani, M.Psi., Psikolog mengulas mengenai dua faktor yang banyak ditemui dan rentan membuat remaja depresi. Dua faktor yakni tuntutan prestasi yang terbaik dari orangtua serta kesempurnaan kehidupan yang diposting di media social alias dunia maya.
Nia menegaskan remaja dengan berbagai tuntutan perannya antara lain tuntutan akademis yang menganggap bahwa pencapaian akademis menjadi sebuah hal penting sehingga menjadi sebuah tuntutan psikologis sehingga dapat menciptakan persaingan diantara remaja.
Belum lagi target atau tuntutan pencapaian akademis yang sempurna itu juga datanf dari orang tua yang menambah psikis remaja makin kebingungan mencari solusi. Ada rasa takut, beban, panik luar biasa yang menyebabkan remaja rentan mengalami depresi berat.
Digitalisasi dikalangan remaja juga menjadikan remaja mudah sekaili dalam mengakses media sosial, namun tanpa disadari penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah misalnya kecanduan, munculnya kecemasan karena membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna yang hanya tampak melalui media sosial saja sehingga terkesan tidak realistis dan menimbulkan depresi.
Alasan lain remaja yang tumbuh ditengah tengah gempuran media sosial namun disisi lain ia merasa terisolasi secara sosial, kesepian dan tidak terpenuhinya kebutuhan emosi karena kurang memiliki interaksi dengan dunia nyata.
Nia menguraikan remaja merupakan masa yang paling indah menurut sebagian besar orang, karena secara fisik masa remaja merupakan sebuah masa perkembangan yang paling optimal menuju kematangan sebelum masuk pada fase dewasa awal.
Selain itu masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, sehingga ia mencoba untuk belajar dalam menghadapi masalahnya secara mandiri, meskipun masih perlu dukungan dan arahan dari pihak lain.
Cara remaja menyelesaikan masalahnya akan berdampak pada tahap perkembangan berikutnya, ketidak mampuan remaja dalam menyelesaikan masalahnya merupakan sebuah kegagalan awal khususnya terkait dengan caranya menyelesaikan permasalahan, yang berimbas pada hubungan dengan sosialnya, serta tanggung jawab terhadap diri maupun lingkungannya.
Kasus bundir di kalangan remaja imbuh ibu tiga anak ini menjadi sebuah fenomena yang sangat kritis dan mengkhawatirkan jumlahnya di Indonesia. Ketidakmampuan remaja menyelesaikan masalahnya merupakan salah satu dari berbagai macam alasan, putus asa dalam menghadapi masalah seolah tidak ada jalan keluar dari permasalahan yang sedang ia hadapi.
Usia remaja yang masih sangat rentan seringkali dianggap tidak memiliki prinsip sehingga mudah sekali terpengaruh terhadap nilai nilai yang semestinya ia pegang teguh, mudah terpengaruh dan merasa kebingungan hal mana yang menjadi panduannya dalam menyelesaikan permasalahan. Sehingga banyak sekali isu kesehatan mental di kalangan remaja termasuk fenomena bunuh diri.
Mengapa remaja melakukan fenomena bunuh diri? Psikolog di Klinik SYAPC (Surya Anggraeni Psychology Center) menyatakan beberapa study menyatakan alasan remaja melakukan bundir karena merasa kesepian, sehingga dalam dirinya muncul berbagai emosi negative seperti menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berguna dan berharga.
Ia merasa kesulitan dalam menghadapi pengalaman negative yang sedang terjadi di kehidupannya, menganggap tidak ada jalan keluar dari permasalahan yang sedang ia hadapi sehingga mudah merasa frustasi dan berusaha menghilangkan rasa sakitnya dengan melakukan bundir.
Penyebab lain bisa juga karena remaja memiliki toleransi yang rendah untuk menerima hal negative yang terjadi dalam dirinya, lebih cenderung menggunakan emosi daripada menghadapi permasalahannya, selain itu factor internal yang dimiliki oleh remaja terkait kondisi psikologis, sifat bawaan yang dimilikinya serta pola asuh keluarga dan komunikasi yang kurang hangat dengan keluarga yang pada akhirnya berpengaruh terhadap remaja dalam menyeselesaikan permasalahannya dan keputusannya untuk melakukan bunuh diri.
Bagaimana peran orang tua, guru dan lingkungan sosial dalam mendampingi remaja agar tetap tangguh dan berdaya, yaitu dengan memberikan dukungan emosional, mendengarkan dengan penuh perhatian, menunjukkan empati dan memberikan dorongan positif saat remaja menghadapi permasalahan atau kegagalan dalam tahapan perkembangannya. Membangun kepercayaan dirinya dengan memberikan pengakuan atau validasi atas prestasi dan usaha yang sudah ia lakukan.
Mengajarkan ketrampilan dalam mengelola emosi serta stress yang dirasakan dengan tehnik relaksasi, melakukan kegiatan olah raga, melakukan hobi yang dapat membangun persepsi positif dikalangan remaja.
Selain itu usaha yang bisa dilakukan yaitu dengan membangun komunikasi terbuka diantara remaja, orang tua, guru serta teman teman disekitarnya, sehingga tumbuh kenyamanan untuk brcerita secara terbuka dengan mengungkapkan perasaannya tanpa takut dihakimi atau diabaikan, dan dapat diberikan dukungan saat dibutuhkan.
Dan yang paling penting adalah membangun mentalitas bertumbuh, perlu dipahami bahwa kegagalan bukanlah sebuah akhir sehingga tidak perlu menghukum dirinya sendiri dengan menyalahkan diri sendiri, namun remaja dapat didorong untuk memahami bahwa kemampuan dan keberhasilannya akan berkembang melalui usaha yang dilakukan serta ketekunan, remaja juga didorong untuk terus banyak belajar dari kegagelan karena kegagalan ada proses untuk terus bertumbuh dan mengasah kemampuan diri tanpa kenal kata henti. [aje]






