Surabaya (beritajatim.com)– Di saat dunia bergejolak dan kehidupan sehari-hari dipenuhi tekanan, isu kesehatan mental tak lagi bisa dianggap remeh. Setiap tahun, Hari Kesehatan Mental sedunia hadir sebagai pengingat pentingnya menjaga kesehatan jiwa di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Hari Kesehatan Mental Sedunia, yang diperingati setiap 10 Oktober, merupakan momen penting untuk meningkatkan kesadaran tentang isu kesehatan mental di seluruh dunia.
Ditetapkan oleh World Federation for Mental Health, hari ini bertujuan untuk mengajak masyarakat berbicara terbuka mengenai kesehatan mental, mengurangi stigma yang ada, dan mendorong akses ke layanan kesehatan mental yang lebih baik.
Dengan tema yang berbeda setiap tahun, peringatan ini mengajak individu, komunitas, dan lembaga untuk bersatu dalam mendukung mereka yang menghadapi tantangan mental.
Pada 2024 ini, WHO merilis tajuk resmi ‘Mental Health at Work’ dalam memperingati Hari Kesehatan Mental global. Hal utama yang disorot dalam tema ini ialah korelasi antara pekerjaan yang dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat.
Dalam dunia yang semakin kompleks, Hari Kesehatan Mental Sedunia mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesejahteraan jiwa dan saling mendukung satu sama lain.
Peringatan ini juga memberikan kesempatan untuk tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga menggali isu-isu yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan kampus.
Di tengah tuntutan akademis yang tinggi, mahasiswa sering kali menghadapi tekanan yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Kewarasan mental di kampus menjadi sangat penting, mengingat peran lingkungan pendidikan dalam membentuk kondisi mental individu.
Menanggapi dinamika perkuliahan dan pengaruhnya terhadap kesehatan mental, Nisrina, salah seorang mahasiswa semester 5 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyatakan pentingnya memikirkan diri sendiri di tengah tuntutan lingkungan perguruan tinggi.
Berbagai konteks di dunia kampus mulai dari pertemanan, organisasi, pembelajaran, dan perihal lainnya tentu memiliki potensi merusak kesehatan mental, dan itulah mengapa, mahasiswa juga harus menemukan caranya sendiri untuk bahagia.
Tidak hanya untuk menyenangkan orang lain atau mengikuti standar yang terlihat di permukaan, mahasiswa bisa lebih bebas berekspresi dan mementingkan dirinya dalam porsi yang cukup.
Bersamaan dengan upaya yang dilakukan dari pribadi masing-masing, mahasiswa juga harus sadar akan pentingnya intervensi unsur religi dalam peringatan ini.
Pada hari kesehatan mental sedunia ini, ia berharap setiap pelajar yang tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi dapat lebih aware terhadap kesehatan mental diri sendiri maupun orang lain. Karena, perilaku sederhana juga dapat memengaruhi kesehatan mental pribadi lainnya.
“Jangan lupa buat tetap dekat sama Tuhan. Kadang tuh, kita kena mental karena ulah manusia. Tapi malah marahnya ke Tuhan.” ungkapnya ketika ditanya harapan di Hari Kesehatan Mental Sedunia 2024.
Mahasiswa lainnya yang berasal dari Malang, Hetti, gadis 20 tahun Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyatakan bahwa harus ada psikoedukasi mengenai bullying bagi semua kelompok umur, tak terkecuali mahasiswa.
Berangkat dari lingkungan keluarga, edukasi mengenai hal ini juga harus masif dilakukan dalam lingkungan kampus.
Melihat ramainya kasus-kasus mental health di kampus, ia berharap bahwa mahasiswa dapat lebih menghargai sesama manusia. Karena sesuai kodratnya, manusia diciptakan berbeda dengan keistimewaannya sendiri-sendiri.
“Umumnya, tindakan bullying berawal dari penghinaan. Itulah mengapa, harus ada pengaturan mindset yang baik demi terciptanya kesehatan mental yang stabil,” tutupnya. [aje]






