Jember (beritajatim.com) – Pasangan calon petahana nomor urut 1, Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman, menandatangani kesepakatan untuk menolak eksploitasi tambang emas di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (30/9/2024).
Kesepakatan ini ditandatangani Hendy-Firjaun di hadapan ribuan orang jemaah yang menghadiri acara perayaan maulid nabi dan haflatul imtihan di Pondok Pesantren Mambaul Ulum 2, Desa Pace. “Alhamdulillah, beliau berdua mau tanda tangan menolak tambang (emas),” kata KH Farid Mujib, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum 2.
Selain sepakat menolak tambang emas, menurut Farid, Hendy-Firjaun juga sepakat menyelesaikan pembangunan infrastruktur jalan di Silo lebih baik lagi. “Mereka juga akan memperhatikan pondok pesantren dan guru ngaji, guru diniyah, dan guru TPQ (Taman Pendidikan Alquran). Kemarin-kemarin (anggaran) difokuskan untuk membangun jalan,” kata Farid.
Farid merasa perlu menyodorkan kesepakatan ini karena masyarakat Kecamatan Silo, terutama di bagian selatan, memerlukan kekuatan dari petahana untuk mendukung penolakan terhadap tambang emas. “Masyarakat butuh kebersamaan dengan Pak Bupati dan Wakil Bupati untuk menolak tambang,” katanya.
Di hadapan ribuan jemaah, Farid menyampaikan keberhasilan Hendy-Firjaun dalam membangun infrastruktur jalan, penggunaan kartu tanda penduduk untuk layanan kesehatan gratis, dan beberapa hal lain yang sudah dirasakan masyarakat.
“Rasanya 3,5 tahun masih kurang untuk membangun Jember. Maka saya sarankan kepada masyarakat tetap memilih Pak Hendy dan Gus Firjaun untuk 2024-2029, karena beliau sangat baik untuk kepentingan umum,” kata Farid.
Calon bupati petahana Hendy Siswanto menegaskan, penandatanganan kesepakatan untuk menolak tambang emas di Silo juga dilakukannya empat tahun silam. “Di pondok pesantren ini, dulu pada saat pencalonan periode pertama, saya dimintai komitmen oleh Kiai Farid: kalau mau jadi bupati, siap tidak bikin surat pernyataan menolak eksploitasi tambang,” katanya.
Selama memimpin Jember, Hendy dan Firjaun sudah membuktikan, Silo tetap aman dari eksploitasi tambang emas. “Apa yang diberikan Allah SWT dinikmati semua, memang benar. Tapi kalau di depan mata kita belum maksimal disyukuri, kenapa kita menggali bumi?” kata Hendy.
“Untuk apa kita mau mencari sejahtera dengan merusak alam? Apapun berhasil (dibudidayakan) di Silo. Tanahnya sangat subur. Punya kekhasan. Untuk apa orang Silo jadi kaya dengan merusak bumi? Saya sama sekali tidak setuju. Jangankan membuat pernyataan satu lembar, suruh 50 lembar saya tandatangani semua,” kata Hendy.
Hendy memperkirakan emas di dalam perut bumi Jember baru akan dieksploitasi oleh generasi mendatang setidaknya seratus tahun kemudian. “Mungkin pada saatnya nanti emas lebih dibutuhkan,” katanya.
Hendy ingin semua pihak menjaga ekosistem di Jember. “Sungai saja sekarang dangkal semua. Kalau kita merusak bumi yang kita pijak sekarang, jadi apa keseimbangan bumi kita?” katanya.
Soal permintaan pembangunan infrastruktur jalan, Hendy menyatakan siap menyelesaikannya pada periode kedua. “Jalan di Silo 90 persen sudah selesai. Yang belum selesai adalah yang di dekat gunung, dan masih ada sebagian yang bermasalah dengan lahan orang lain, dengan PTPN (PT Perkebunan Nusantara) dan Perhutani,” katanya.
Penyelesaian persoalan lahan ini akan dilakukan Hendy pada periode kedua melalui nota kesepahaman. Setelah nota kesepahaman terbangun, ia bisa masuk untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat Silo yang bekerja dan tinggal di kebun. [wir]






