Jember (beritajatim.com) – Ada cerita di balik hari pertama kampanye pemilihan kepala daerah Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (27/9/2024). Ternyata Hendy Siswanto, calon bupati nomor urut 1, sempat jatuh sakit dan diinfus.
Semua berawal saat Hendy menghadiri undangan media CNN Indonesia di Surabaya, Rabu (25/9/2024) malam, untuk menerima penghargaan. “Saat itu fisik saya sudah kurang bagus. Ruangannya dingin sekali,” katanya, Minggu (29/9/2024).
Kamis keesokan harinya, Hendy menghadiri undangan Dewan Pimpinan Daerah PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya. “AC-nya luar biasa dahsyat, Dingin sekali. Ini yang langsung bikin saya agak keder. Badan saya tidak bisa menerima,” katanya.
Selesai acara, Hendy tidak langsung pulang ke Jember, namun mampir ke Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, pada malam harinya. Pertemuan dengan ulama di sana selesai kurang lebih pukul sebelas malam. “Sampai ke Jember, Jumat (27/9/2024), pukul setengah tiga dini hari. Saya langsung berkeliling,” katanya.
Hendy punya kebiasaan selama 1,5 tahun ini menunaikan salat subuh berjemaah di sejumlah masjid setiap hari, termasuk saat itu. Kendati sudah terasa sakit, ia meneruskan kampanye menyapa warga di sejumlah lokasi.
Namun kondisi tubuh tak bisa dikelabui. Usai salat Jumat, tubuh Hendy menggigil. Akhirnya ia memutuskan beristirahat di rumah pribadi pada sore hari dengan infus menancap di tangan selama enam jam. “Sabtu pagi sudah agak enakan, saya berangkat salat subuh berjemaah lagi,” katanya. Hendy berkeliling di Kecamatan Arjasa, Sabtu (28/9/2024).
“Alhamdulillah, kami ke mana-mana tidak perlu berkampanye. Malah orang-orang yang memanggil dan berswafoto. Lama di swafoto dengan warga. Tidak menyampaikan banyak hal (soal program),” kata Hendy.
Bertemu petani, Hendy mendapat banyak masukan dan keinginan. Dia juga meninjau lokasi pembangunan jembatan dan mengingatkan agar tidak terlambat.
Saat ke pasar sapi Kecamatan Rambipuji, Hendy disambut hangat para pedagang hewan ternak. “Mereka anak muda keren-keren. Dengan suara lantang menyampaikan: ‘Pak Hendy, pasar ini yang membuka Pak Hendy. Kalau tidak ada Pak Hendy, pasar ini tidak dibuka’,” kata Hendy menirukan ucapan salah satu pedagang.
Ternyata setelah pandemi Covid, Hendy yang mengeluarkan kebijakan agar pasar sapi segera dibuka. “Waktu itu kasihan, pedagang tidak bisa berjualan, sehingga kami memberanikan diri membuka pasar sapi. Saya sampaikan kepada teman-teman: kalau Gusti Allah memberi kesempatan, tinggal memperbaiki lebih sempurna. Saya akan perbaiki selurub pasar di Kabupaten Jember pada periode berikutnya,” katanya.
Pasar memang belum menjadi prioritas pembangunan pada periode pertama kepemimpinan Hendy. “Waktunya tidak cukup dan anggarannya terbatas, untuk infrastruktur jalan, penerangan jalan umum, sekolah, masih banyak yang harus kami perbaiki sehingga membutuhkan biaya cukup tinggi,” kata Hendy.
Hendy sudah mengagendakan berkeliling setiap hari hingga masa kampanye selesai. “Satu kecamatan satu hari, sampai selesai. Teman-teman PDI Perjuangan juga bergerak sendiri untuk berkampanye dan pasang stiker,” katanya.
Hendy baru akan beristirahat setiap hari pada pukul sebelas malam, dan memulai aktivitas kembali pada pukul tiga pagi. Ada tiga tempat yang selalu menjadi lokasi tetap Hendy untuk dikunjungi setiap berkeliling, yakni masjid setempat untuk salat subuh berjemaah, pasar, dan kedai makan. “Saya kemarin di Arjasa mampir di Green Cafe sambil menikmati pemandangan Rembangan,” katanya.
Hendy menyebut acara keliling Jember sebagai program penggemukan, karena selalu mampir ke lokasi makan yang enak. “Kalau yang disampaikan sudah tidak terlalu banyak. Mereka (warga) ngomong sendiri agar pemerintahan (Hendy Siswanto-Muhammas Balya Firjaun Barlaman) dilanjutkan,” katanya.
Jika Hendy menyapa masyarakat umum, calon wakil bupati petahana Muhammad Balya Firjaun Barlaman menyapa kalangan ulama, santri, dan muslimat. “Jadi kami sudah bergerak masing-masing. Kami langsung door to door ke personal-personal,” katanya. [wir]






