Surabaya (beritajatim.com) – Mahameru Gunung Semeru.
Munji sundhul langit kang biru (menjulang tinggi di langit yang biru).
Saiki malih udan tangis (sekarang berubah duka cita).
Ndadekke sasana miris (menjadikan suasana penuh ketakutan).
Lahar watu moro ing ngarepku (lahar batu menghampiriku).
Kabeh manungsa ajrih lan mlayu (semua manusia takut lari tunggang langgang).
Banda dunya wis ora miguna (harta benda sudah tiada guna).
Mung ndedonga maring Gusti Kang Kuwasa (Hanya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa).
Di atas merupakan lirik lagu ‘Tangise Gunung Semeru’ yang dibawakan Sindy Purbawati. Lirik yang menggambarkan betapa dahsyatnya erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.
***
Hujan mengguyur Lumajang dengan derasnya pada Sabtu, 4 Desember 2021. Waktunya cukup lama, lebih dari satu jam. Dengan area guyuran yang luas. Tak terkecuali puncak Semeru, sang gunung tertinggi di Pulau Jawa.
Semula, suasana berlangsung biasa saja. Hanya udara yang terasa dingin serta bau segar tanah yang tersiram air. Masyarakat lereng Semeru pun beraktivitas seperti biasa. Mengisi waktu jelang sore dengan tenang dan santai.
Begitu jarum jam menunjukkan pukul 15.20 WIB, ketenangan itu berubah. Semua panik. Segera keluar rumah, mengambil sepeda, sepeda motor, dan bergegas menuju bawah. Tak peduli harta benda apapun di dalam rumah. Dalam pikiran mereka hanya ingin selamat.
Saat itu, puncak Semeru sedang bergemuruh. Guyuran hujan memicu lava di Kawah Jonggring Saloka meletup. Sang tirta menyambut. Berubah menjadi banjir lava hujan. Sementara, awan panas menyembul ke atas. Seketika dingin akibat terbasuh air. Pun berubah menjadi awan panas guguran dan meluncur sejauh 7 Kilometer.
Bencana pun muncul. Abu vulkanik berpadu dengan air hujan berubah menjadi air bah maha dahsyat. Menyusur ke bawah melalui aliran sungai. Tak mengenal kata penghalang. Semua diterjang, tak berbekas.
Pilu pun menusuk dada. 51 jiwa dilaporkan meninggal pada peristiwa yang dikenal dengan erupsi Gunung Semeru itu. Juga, 169 orang luka dengan 45 di antaranya luka bakar akibat awan panas guguran, Sementara 22 lainnya dinyatakan hilang.
Letusan Semeru terjadi pada 4 Desember 2021. Setidaknya 51 jiwa meninggal, 169 terluka, dan 22 lainnya hilang. Ada 45 orang mengalami luka bakar karena letusan tersebut.
Jembatan Gladak Perak, penghubung jalur selatan antara Lumajang dan Malang terputus akibat diterjang banjir lahar dingin. Aliran piroklastik dan lahar merusak sedikitnya 5.205 rumah dan beberapa bangunan umum.
Jumat, 7 Juli 2023, 1,5 tahun setelah bencana erupsi, muncul “Tangise Semeru”. Bencana banjir lahar dingin dipicu hujan lebat membawa material vulkanik melorot. Meluncur dengan kecepatan sangat tinggi. Menutup permukaan asli aliran sungai dengan pasir vulkanik. Tetesan air mata Semeru berubah jadi gelombang air bah.
Jembatan Mujur menjadi saksi bisu “Tangise Semeru” kala itu. Sekitar pukul 16.00 WIB, jembatan yang menghubungkan Desa Kloposawit dengan Desa Tumpeng, Kecamatan itu putus total. Materialnya ambrol diterjang banjir lahar dingin. Tak bersisa sedikitpun.
“Kebetulan waktu itu sedang hujan lebat, nggak tahunya ada suara gemuruh dan terjadi banjir, sampai susulan banjir ketiga dan akhirnya menghabiskan jembatan ini. Jembatan ini akses utama menghubungkan Desa Kloposawit ke Desa Tumpeng sampai ke Lumajang,” ujar Kepala Desa Kloposawit, Marjoko, menceritakan kembali bencana besar yang membuat Jembatan Mujur ambrol.
Putusnya jembatan ini membuat aktivitas warga menjadi terganggu, karena lalu lintas kendaraan sudah tidak bisa menyeberang lagi. Akibatnya, mayoritas warga yang mata pencahariannya sebagai petani dan buruh tani menjadi berkurang penghasilannya.
Akibat putusnya jembatan itu adalah pengangkutan hasil pertanian tidak bisa lancar, bahkan penjualannya juga terganggu. Untuk mengangkut hasil pertanian, warga harus memutar sekitar 15 km melalui jalur lain. Sedangkan, para buruh tani juga susah menjangkau tempat kerja mereka yang ada di seberang.
Selain itu, juga menghambat pendidikan di sekolah. Ini karena perjalanan anak-anak dan pengajar menuju ke sekolah, pun menjadi terganggu. Kendala ini terjadi beberapa hari, hingga akhirnya warga bergotong-royong membuat jembatan darurat dari bambu.
Kondisi ini tidak berlangsung lama. Pemerintah pun bergerak cepat. Jembatan Mujur yang sudah tak bersisa kembali dibangun hingga tuntas.
Jembatan Mujur bahkan menjadi saksi bisu “Tangise Semeru” sampai dua kali. Sempat berdiri pasca banjir lahar dingin 7 Juli 2023 dengan nama Jembatan Mujur II, jembatan ini kembali dihantam bencana yang sama pada 18 April 2024. Operatenya (penghubung antara badan jembatan dengan jalan) sempat jebol namun jembatan tetap aman. Jembatan Munjur II pun teruji kekokohannya dan kini bangkit berdiri, menjadi penghubung masyarakat yang terpisah sungai aliran lahar.
44 jurnalis Kelompok Kerja (Pokja) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) berkesempatan meninjau wajah baru jembatan dengan panjang 39 meter dan lebar 4,2 meter itu pada Selasa (17/9/2024) dalam rangka Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) Pemprov Jatim 2024.
Jembatan Mujur II berada di Desa Kloposawit, yang merupakan desa yang terletak di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Saat mendengar Kloposawit, mungkin muncul anggapan desa itu adalah penghasil kelapa sawit. Nyatanya, anggapan itu salah besar. Tak ada satupun pohon kelapa sawit ditemukan di sana.
Nama “Kloposawit” ternyata bukan merujuk pada komoditas perkebunan yang sering diekspor tersebut. Asal mula nama itu diambil merujuk pada kisah salah satu punggawa panunggul.
Alkisah, ada lima orang punggawa panunggul yang berhasil melarikan diri dari perang hingga sampai ke wilayah lereng Gunung Semeru. Salah satunya pergi ke arah selatan. Prajurit tersebut adalah Singo, yang berhasil membuka hutan wingit (angker) yang belum ada yang berani menjadikannya tempat tinggal.
Di antara lebatnya hutan tersebut, ada dua pohon yang tumbuh berdekatan. Saat tertiup angin, daun dari kedua pohon itu bersambit-sambitan (bersahut-sahutan). Akhirnya, tempat tersebut dinamai Kloposambit. “Klopo” yang berarti kelapa, lalu “sambit” yang berarti bersahutan. Agar lebih mudah diucapkan, diganti dengan Kloposawit.
Itu adalah asal-usul Desa Kloposawit dari penuturan H. Sumarto, Sunarso, dan Mbah Lamat yang ditulis ulang mahasiswa Universitas Jember, Siti Kholifah.
Pasca Banjir Lahar Dingin 7 Juli 2023
Bencana lahar dingin Semeru yang melanda pada 7 Juli 2023 silam, mengakibatkan sejumlah jembatan di Lumajang terputus. Tak butuh waktu lama. Cukup dua bulan. Pada Rabu (20/9/2023), salah satu jembatan yang terputus, yakni Jembatan Mujur II di Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro telah kembali berfungsi. Penggunaannya diresmikan oleh Gubernur Jatim saat itu, Khofifah Indar Parawansa.
Peresmian jembatan berkapasitas 40 ton dengan jangka usia 50 tahun ini ditandai dengan pemotongan tumpeng, penandatanganan prasasti, dan pemotongan untaian melati di badan jalan jembatan.
Hadir mendampingi Gubernur Khofifah saat itu, Bupati Lumajang Thoriqul Haq bersama jajaran Forkopimda setempat, dan sejumlah Kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim. Di antaranya, Kadis PU Bina Marga Jatim Edy Tambeng Widjaja, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, Kadis PU Cipta Karya, Kadis PU SDA, Kepala Biro AP, Kadinsos Jatim, dan Kalaksa BPBD Lumajang, Patria Dwi Hastadi.
Thoriqul menyampaikan terima kasih atas upaya percepatan Pemprov Jatim dalam melakukan rehabilitasi Jembatan Mujur II hingga selesai. Tuntasnya pembangunan jembatan ini diyakini sangat bermanfaat. Mengingat jembatan tersebut menjadi akses utama warga Desa Kloposawit dan Desa Tumpeng, sekaligus penghubung masyarakat dari Candipuro menuju Tempeh dan Lumajang Kota.
Khofifah mengajak masyarakat Lumajang bersholawat, sebagai wujud syukur atas rampungnya pembangunan jembatan. Sebagai simbol peresmian jembatan, dia juga mengajak segenap masyarakat yang hadir untuk mengucapkan basmallah bersama-sama.
Jembatan Mujur II Diterjang Banjir Lahar Dingin Lagi di 18 April 2024
Setelah Jembatan Mujur II beroperasi selama 7 bulan, hujan lebat yang terjadi selama hampir 12 jam di hulu sungai. Gunung Semeru kembali “menangis” hingga timbul banjir lahar dingin pada Kamis (18/4/2024) malam. Menerjang sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS).
Akibat dahsyatnya terjangan banjir lahar dingin kali ini, sejumlah infrastruktur seperti jembatan dilaporkan putus. Salah satunya adalah jembatan konstruksi baja di aliran Sungai Mujur, Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Lumajang, kembali putus.
Jembatan yang baru diresmikan pada 20 September 2023 lalu oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, kembali mengalami kerusakan di sisi selatan. Bagian fondasinya runtuh sehingga putus.
“Intensitas hujan yang sangat lebat sejak pukul 5 pagi hingga 12 malam tadi, mengakibatkan sejumlah DAS mengalami banjir. Salah satunya sungai mujur di Kloposawit ini,” kata Pj Bupati Lumajang, Indah Wahyuni.
Lebih lanjut Indah menyampaikan, selain mengakibatkan jembatan putus, akibat terjangan banjir lahar dingin Semeru ini juga memakan korban jiwa 2 orang. Yang terdiri dari pasangan suami istri, Bambang dan Ngatini, warga Desa Kloposawit.
Herman, salah seorang warga Desa Kloposawit berharap ada langkah cepat dari pemerintah untuk segera melakukan perbaikan bagian jembatan penghubung antara Desa Kloposawit dan Desa Tumpeng, di Kecamatan Candipuro Lumajang yang putus ini.
“Semoga pemerintah segera memperbaiki bagian jembatan yang putus termasuk tanggul bronjongnya yang juga rusak, agar aktivitas warga bisa kembali normal dan pemukiman warga aman,” tukas Herman.
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono meminta perbaikan jembatan dan DAM yang rusak akibat terjangan banjir lahar dingin Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang bisa diselesaikan sesegera mungkin. Seperti diketahui, sedikitnya ada enam jembatan yang mengalami kerusakan berat akibat banjir lahar dingin tersebut.
“Kami tidak ingin ada jeda, jadi jembatan yang rusak, begitu juga perbaikan DAM akan segera dilakukan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) BPBD Provinsi Jatim,” kata Adhy, Selasa (23/4/2024).
Salah satu jembatan yang mengalami kerusakan ialah Jembatan Mujur II yang berlokasi Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Jembatan Mujur II adalah jembatan yang menghubungkan Desa Kloposawit dan Desa Tumpeng.
Khusus Jembatan Mujur II Kloposawit, Adhy menargetkan perbaikannya bisa selesai dalam waktu satu bulan lebih satu pekan. Adhy meyakini terget tersebut bisa tercapai. Tahun lalu, kata dia, dengan kerusakan yang lebih parah, perbaikan bisa dirampungkan dalam waktu dua bulan.
“Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim menyanggupi proses perbaikan Jembatan Mujur II Kloposawit bisa dilakukan dalam kurun waktu satu bulan lebih satu minggu. Tahun lalu bisa lebih cepat dari target, jadi (tahun ini) semoga bisa lebih cepat dari itu,” ujarnya.
Jembatan Mujur II tahun 2023 lalu juga sempat terputus akibat terjangan lahar dingin Gunung Semeru, dan baru diresmikan Gubernur saat itu, Khofifah Indar Parawansa pada 20 September 2023. Saat itu, Jembatan Mujur II Kloposawit dibangun dengan alokasi anggaran mencapai Rp 11 miliar.
Jembatan yang memiliki panjang 39 meter dan lebar 5,1 meter saat itu dibangun dengan menggunakan konstruksi bailey atau rangka baja. Khofifah saat itu menyebutkan, umur jembatan diperkirakan bisa mencapai 50 tahun. Namun, belum sampai setahun, jembatan kembali terputus akibat bencana serupa.
Penanganan Jembatan Mujur II
Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim Edy Tambeng melalui Idrus Miftachul Alam sebagai PPK Penanganan Darurat Kerusakan Jalan dan Jembatan kepada beritajatim.com di kantornya, Jumat (27/9/2024) menjelaskan, bahwa pihaknya diminta menangani perbaikan putusnya dua jembatan akibat banjir bandang lahar dingin Semeru pada 2023. Yakni, Jembatan Kali Regoyo dan Jembatan Mujur II di Desa Kloposawit.
“Jadi, Jembatan Mujur II ini milik Pemkab Lumajang. Dibangunnya sudah lama. Yang jadi masalah ini adalah Sungai Mujur. Sungai Mujur itu sudah lama tidak aktif, dan larinya ke Sungai Glidik dan Sungai Regoyo. Tapi nggak tahu mengapa pada tahun itu air di Sungai Mujur juga membludak, sehingga jadi banjir dan Jembatan Mujur II putus. Kami dapat perintah dari Bu Gubernur untuk melakukan penanganan darurat dengan jembatan bailey, agar jembatan bisa dilewati. Ini karena menghubungkan dua desa, Kloposawit dan Tumpeng, serta lumayan ramai dilalui masyarakat,” jelasnya.
Idrus menambahkan, pihaknya mendapat target waktu penyelesaian perbaikan jembatan selama 3 bulan. Jembatan dengan panjang 39 meter dan lebar 4,2 meter itu bisa dilewati kendaraan mobil dua jalur. “Dua mobil bisa lewat papasan. Terus kita juga buat pelindung jembatannya, dengan menggunakan bronjong di hulu dan hilirnya, supaya aliran bisa terjaga. Pada Oktober 2023, jembatan sudah bisa beroperasi. Terus diterjang lagi pada April 2024, kali ini yang dihantam adalah operate-nya dan putus, yakni penghubung antara jalan dengan jembatan. Saat membangun jembatan darurat itu bersifat sementara dan kita tumpangkan pada jalan yang ada. Kita tak buat fondasi baru. Operate yang putus berada di sisi Desa Kloposawit. Syukurnya, jembatan itu masih menumpang di fondasi lama dan tidak putus, hanya operate-nya. Kita kembali perbaiki operate selama 1,5 bulan, perkuat bronjongnya dan bisa dilewati,” paparnya.
Yang jadi masalah di Kali Mujur, lanjut dia, berdasarkan penuturan warga setempat adalah kedalaman air mencapai 10 meter. Sekarang terisi sedimentasi semua. “Kemarin kita buat ketinggian jembatan dari dasar sungai sampai 4 meter. Sekarang dasar sungai sudah turun lagi 2 meter. Jadi, rawannya adalah ketika sedimentasi atau endapannya naik bisa meluber airnya. Tapi kalau semakin turun, semakin ndelong ke bawah. Jembatan darurat ini bisa tahan sampai 50 tahun. Tapi, yang jadi masalah adalah tumpuan fondasinya, hanya sementara dan tidak dalam. Ini sifatnya darurat dan cepat,” tuturnya.
Untuk biaya perbaikan jembatan saat putus pertama pada 2023 mencapai Rp 11 miliar dan perbaikan saat operate putus pada 2024 mencapai Rp 1,7 miliar. Total anggaran untuk perbaikan sebesar Rp 12,7 miliar. Anggaran diambil dari Bantuan Tidak Terduga (BTT) di APBD Jatim.
“Jembatan Mujur II ini banyak dilalui angkutan truk hasil perkebunan warga. Tidak boleh dilewati angkutan truk sirtu. Ini karena akan merusak jembatan dan jalan desa. Kekuatan jembatan bisa dilalui sampai 10 ton, tapi kami batasi sampai 5 ton saja. Jembatan ini sangat penting bagi warga Desa Kloposawit dan Desa Tumpeng. Saat jembatan putus, masyarakat desa harus berputar lewat Pasirian, Lumajang yang menempuh jarak sampai 6-8 km,” katanya.
Data Teknis Perbaikan 2023:
– Nilai Pekerjaan Rp. 11.008.000.000
– Lingkup Pekerjaan: pemasangan jembatan bailey, bronjong pelindung jembatan dan normalisasi aliran sungai
– jembatan bailey panjang 39 meter, lebar lajur 4,2 meter
– tanggul bronjong pelindung jembatan dengan ketinggian 4 meter, panjang total 329 meter
– normalisasi sungai panjang 280 meter dengan lebar 27-45 meter.
Data Teknis Perbaikan 2024:
– Nilai Pekerjaan Rp. 1.700.000.000
– Lingkup Pekerjaan: pembuatan abutmen dan oprit jembatan serta bronjong pelindung jembatan
– Abutmen dan oprit jembatan dengan panjang 15 meter
– tanggul bronjong (dengan krib) untuk pelindung jembatan dengan ketinggian 4 meter panjang total 54 meter
Fungsional Ahli Madya Teknik Jalan Jembatan dari Dinas PU Bina Marga Jatim, Emil Wahyudianto menambahkan, setelah jembatan putus, pihaknya melakukan koordinasi dan mengajukan dana BTT bersama OPD terkait. Kemudian, disepakati untuk menormalkan kondisi, sehingga diperlukan jembatan darurat Bailey.
“Target dua bulan, akhirnya bisa selesai 1,5 bulan. Untuk putus pertama 2023, jembatannya yang terdampak. Saat putus kedua, jembatan aman berdiri, tapi operate-nya yang rusak. Ini karena arah aliran berubah. Kalau pembangunan jembatan permanen, itu tergantung Pemkab Lumajang. Jembatan darurat kalau perawatannya bagus, bisa seperti permanen kekuatannya hingga bisa dilewati muatan sebesar 10 ton. Harus terus diawasi,” katanya.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Lumajang, Reza Aditya mengatakan, Jembatan Mujur II di Desa Kloposawit terputus akibat terjangan banjir lahar dingin Semeru pada 7 Juli 2023. Kemudian, pihaknya melakukan kaji cepat dengan membentuk tim melibatkan OPD terkait, dari pemerintah kabupaten dan provinsi. Setelah tersambung, pada 18 April 2024 terjadi lagi putusnya operate jembatan, akibat bencana banjir lahar dingin. Kami langsung koordinasi dengan Dinas PU Bina Marga Jatim. Mengapa menggunakan Bailey, ini karena butuh kecepatan dan dalam kondisi darurat,” imbuhnya.
Peresmian Kembali Jembatan Mujur II
Penjabat Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono meresmikan tanggul Sungai Mujur dan Jembatan Mujur II Kloposawit yang ada di Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Sabtu (8/6/2024).
Jembatan ini merupakan aksi cepat Pemprov Jatim terhadap dampak bencana banjir lahar dingin yang menerjang Kabupaten Lumajang pada tanggal 18 April 2024 lalu.
Yang mana bencana tersebut merendam tujuh desa dan tiga kelurahan di lima kecamatan dengan ketinggian air mencapai 15-20 cm. Dan, menyebabkan enam jembatan mengalami kerusakan. Salah satunya Jembatan Mujur II.
Pj Gubernur Adhy diketahui sempat meninjau lokasi bencana pada bulan April lalu dan menjanjikan agar perbaikan jembatan akan cepat dilakukan. Dan, janji tersebut berhasil dipenuhi.
“Alhamdulillah, hari ini kami meresmikan tanggul Sungai Mujur sesuai dengan janji kami pada waktu peninjauan ke lokasi bencana pada Bulan April yang lalu,” katanya usai meninjau Tanggul Sungai Mujur.
Adhy mengatakan, jebolnya Tanggul Sungai Mujur ini memang harus segera ditangani. Pasalnya, jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar.
“Penyelesaian tanggul ini lebih cepat dari yang disepakati, dari 2 bulan jadi 1 bulan 3 minggu. Ini menunjukkan bahwa teman-teman juga bekerja dengan niatan dengan secepatnya mengatasi persoalan tanggul jebol,” terangnya.
Lebih lanjut Adhy menjelaskan, tanggul Sungai Mujur ini dibangun di dua titik lokasi dan satu upaya normalisasi. Titik pertama dengan tanggul sepanjang 225 m, tinggi 7,5 m dan krib sepanjang 30 m dengan tinggi 4.5 m, titik kedua tanggul sepanjang 62 m dengan tinggi 2 m dan untuk normalisasi sepanjang 362 m dengan volume 3.169 m3.
“Mudah-mudahan dengan dibuat tanggul yang lebih dari yang semula tingginya itu bisa lebih memberikan perlindungan yang maksimal kepada masyarakat,” harapnya.
Selain lokasi ini, Pj. Gubernur Adhy menyebut Pemprov Jatim tengah menyelesaikan empat tanggul di lokasi berbeda di Lumajang. Juga ada lima jembatan yang dibangun dan satu jembatan diperbaiki. Selain itu, juga ada satu perbaikan jalan yang ada di Tawon Songo, Kecamatan Pasrujambe.
“Saya kira hampir Rp52 miliar itu bukan jumlah yang kecil ya untuk saat ini, menggunakan bantuan BTT itu jumlah yang sangat besar, dan ini merupakan bentuk perhatian kami,” ucapnya.
Ia menyampaikan bahwa bantuan Pemprov Jatim diberikan sesuai dengan kebutuhan daerah terdampak bencana. Hal itu juga didasari bahwa keterbatasan anggaran di pemerintah daerah kabupaten/kota. Oleh sebab itu, untuk penanganan darurat bencana, Pemprov Jatim menganggarkannya melalui skema BTT atau Belanja Tidak Terduga.
“Saya tegaskan bahwa karena memang kebutuhannya banyak demikian juga dimana pun terjadi di Ponorogo, Trenggalek itu juga dikasih sesuai porsi,” tuturnya.
Adhy juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam perbaikan infrastruktur pascabencana di Lumajang kali ini. Terlebih mereka mampu menyelesaikannya dalam kurun waktu yang lebih singkat dari yang ditargetkan.
“Ini berkat kerjasama yang baik juga, dari forkopimda, dari pengamanan, dari PU juga, terima kasih. Ini kami betul-betul bekerja dengan berkejaran waktu,” katanya.
Karakteristik Semeru dan Banjir Lahar Dingin
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur merupakan gunung api aktif yang berstatus waspada. Gunung ini mempunyai kawah aktif Jonggring-Seloko di sisi tenggara Puncak Mahameru.
Sebagai salah satu gunung api aktif, ada sejumlah potensi bencana yang bisa terjadi. Kalaksa BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto menyebut salah satu bencana yang berpotensi terjadi adalah banjir lahar dingin.
“Puncak Semeru masih banyak tumpukan material, khawatir saat hujan lebat ada tambahan erupsi menjadi riskan dampaknya lahar dingin,” ujar Gatot dalam Webinar Update Aktivitas Gunung Semeru dan Upaya PRB Banjir Lahar.
Memahami potensi banjir lahar dingin yang bisa terjadi, Kalaksa BPBD Kabupaten Lumajang, Patra Dwi Hastiadi mengungkapkan, bahwa pihaknya tengah melakukan serangkaian upaya mitigasi bencana tersebut.
“Seperti relokasi masyarakat di hunian tetap (huntap), optimalisasi early warning sistem, mitigasi aliran hulu dan hilir, mitigasi edukasi kebencanaan, hingga usulan penanganan menyeluruh sedimen dan aliran,” kata Patra.
Namun, Gatot menyampaikan bahwa tak hanya BPBD yang bisa ambil peran dalam upaya pengurangan risiko bencana di kawasan Gunung Api Semeru. Para akademisi seharusnya ikut berpartisipasi.
“BPBD Jatim dan Lumajang sudah mengantisipasi, baik itu lewat Desa Tanggap Bencana, pemasangan rambu evakuasi, hingga sosialisasi dan penguatan masyarakat. Namun, peran akademisi untuk membantu penanganan pra bencana, maupun saat bencana sampai pascabencana juga diperlukan untuk mengurangi risiko kehilangan nyawa, serta minim kerusakan infrastruktur,” tegas Gatot.
Pengamat Kebencanaan ITS
Akademisi dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim pun saat ini tengah melakukan penelitian dan kajian untuk merumuskan upaya pengurangan risiko dampak aktivitas Gunung Semeru.
“Kami berupaya untuk membangun sebuah alat yang dapat dimanfaatkan dalam mengurangi risiko gunung api dengan tim peneliti kolaborasi yang akan melaksanakan kegiatan lapangan tanggal 2 sampai 3 Agustus 2024 di Gunung Semeru,” ujar Kepala Puslit MKPI ITS, Prof Adjie Pamungkas.
Untuk informasi, berdasarkan hasil pemantauan terkini PVMBG, Gunung Semeru kerap mengalami erupsi yang umumnya erupsi abu bertipe vulkanian dan strombolian, terjadi 3-4 kali setiap jam.
Selain itu juga teramati asap letusan putih kelabu dengan tinggi sekitar 300-1.000 meter serta guguran lava pijar dengan jarak luncur 200-1.000 meter ke arah Besuk Kobokan.
Selain itu terkait gempa yang terjadi di Gunung Semeru, PVMBG mengungkapkan bahwa aktivitas kegempaan masih tinggi. Didominasi gempa letusan, embusan, guguran dan tremor harmonik.
Netramu netes eluh dinten niki (matamu mengeluarkan air mata di hari ini). Mbanjiri Bumi Pertiwi (membanjiri bumi pertiwi). Gemuruh, udan barat, tanpa sigeg (gemuruh hujan angin tanpa henti). Nyembur dumaya, jagad malih peteng ndhedhet (menyemburkan asap, dunia jadi gelap gulita).
Penggalan akhir lirik lagu ‘Tangise Gunung Semeru’ yang dinyanyikan Sindy Purbawati itu semoga tak ada seri kelanjutannya. Dan, erupsi Gunung Semeru serta banjir lahar dingin tak terjadi lagi. Ini agar rakyat Lumajang tak menangis kembali. [tok/beq]

















