Madiun (beritajatim.com) – Dongeng bukan hanya sebagai pengantar tidur, tetapi juga bisa menjadi media edukasi yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai luhur. Sayangnya, budaya mendongeng di tengah masyarakat semakin memudar.
Hal inilah yang menjadi perhatian para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun.
Untuk mengatasi kekhawatiran ini, mahasiswa UKWMS Kota Madiun menggelar acara bertajuk Madiun Mendongeng 2024 pada Kamis (26/09/2024) Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan dongeng, tetapi juga untuk merayakan Dies Natalis ke-64 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Bulan Literasi Internasional.
“Madiun Mendongeng 2024 muncul dari keresahan kami, karena mendongeng semakin jauh dari kehidupan sehari-hari,” ungkap Margareta Ngorot Sapoula, Ketua Pelaksana acara, saat ditemui di kampus UKWMS Kota Madiun.
Acara ini menghadirkan sejumlah pendongeng dari berbagai latar belakang, mulai dari anak-anak, mahasiswa, guru, hingga orang tua. Para pendongeng tampil dengan kostum yang beragam, seperti jubah, topeng, hingga pakaian tradisional, menambah daya tarik acara ini.
“Pendongeng yang terlibat berasal dari kalangan mahasiswa, dosen UKWMS, guru, budayawan, dan siswa dari Kota Madiun. Karena belum banyak komunitas dongeng di Madiun yang terpublikasi, maka pendongeng yang kami undang bersifat individu atau non-komunitas,” jelas Margareta.
Beberapa pendongeng yang ikut serta dalam memeriahkan Madiun Mendongeng 2024 antara lain Titus (Budayawan Madiun), Dian (Guru SMPN 06 Kota Madiun), Lula (Guru PAUD Saradan, Caruban), serta siswa-siswi SDK St. Bernardus Madiun, Servi dan Servo. Selain itu, mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UKWMS, seperti Yustina Yuyu Margareta dan Putri Bintoro, juga turut ambil bagian.
Mahasiswa UKWMS berharap agar acara ini dapat menjadi pemicu untuk menghidupkan kembali budaya mendongeng, khususnya di Madiun. “Kami ingin masyarakat menyadari bahwa dongeng bukan sekadar hiburan, tetapi bisa menjadi media edukasi yang menyenangkan dan tidak menggurui,” ujar Margareta.
Acara ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Salah satu penonton, Eden, mengapresiasi ragam usia pendongeng yang tampil. “Acara ini menarik karena pendongengnya berasal dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang tua,” ucapnya.
Eden juga menekankan pentingnya mendongeng sebagai sarana pembelajaran. “Melalui dongeng, kita bisa belajar sesuatu yang berat dengan cara yang menyenangkan. Contohnya, ketika saya mendengarkan dongeng ‘Pak Lebai yang Malang’ yang dibawakan oleh Servi Servo dari SDK St. Bernardus, saya diingatkan kembali tentang pentingnya konsistensi, namun tidak dengan cara yang menggurui.”
Dia berharap acara ini dapat menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan. “Saya berharap Madiun Mendongeng dapat terus diselenggarakan setiap tahun. Saya sudah tidak sabar menunggu Madiun Mendongeng 2025,” tambah Eden.
Dengan acara seperti ini, mahasiswa UKWMS Madiun berupaya menghidupkan kembali dongeng sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat, tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai media pembelajaran yang bermakna. [fiq/kun]






