Bangkalan (beritajatim.com) – PT Pelindo Marine Service (Pelindo Marine) terus berupaya mendukung pertanian di lahan kering melalui pengembangan jaringan pipa distribusi air tawar. Proyek ini diluncurkan di Desa Socah, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, dengan dukungan dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.
Kelompok petani Dusun Peddes menjadi penerima manfaat dari inisiatif ini, yang disebut ‘Sumber Air Berkah’.
Koordinator Bidang TJSL Kementerian BUMN, Fahrudin, hadir untuk meninjau langsung instalasi sumur bor, pompa listrik, dan tandon air, serta berpartisipasi dalam tasyakuran bersama para petani pada Selasa (24/9/2024). Ia didampingi oleh Febrianto Zenny Sulistyo, Departemen Head Program TJSL Pelindo, dan Lia Indi Agustiana, Direktur Keuangan, SDM, dan Manajemen Risiko Pelindo Marine.
Alfarobi Hasan, perwakilan warga desa, menyampaikan rasa terima kasih kepada Pelindo atas dukungan yang telah diberikan sejak tahun lalu. Ia menjelaskan bahwa dengan adanya ‘Sumber Air Berkah’, lahan yang dulunya hanya bisa ditanami sekali setahun kini dapat menghasilkan 2 hingga 3 kali panen padi setiap tahun.
“Bahkan, kami juga sedang mencoba menanam jagung,” ujarnya.
Fahrudin menegaskan bahwa Program TJSL Pelindo Marine bersifat multidimensional, dimulai dari pembangunan sumur untuk mengatasi masalah lahan kering, hingga meningkatkan hasil produksi pertanian.
Program ini diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan, termasuk peningkatan pendidikan anak melalui pendapatan tambahan dari hasil pertanian.
“Program ini sejalan dengan tiga bidang prioritas TJSL Kementerian BUMN, yaitu dampak lingkungan, ekonomi, dan pendidikan,” tambahnya. Ia berharap skema ini dapat direplikasi di wilayah lain yang membutuhkan.
Febrianto Zenny Sulistyo menambahkan bahwa dukungan Pelindo untuk ‘Sumber Air Berkah’ akan dilanjutkan dengan pemasangan jaringan perpipaan yang lebih luas.
“Dengan perluasan ini, kami berharap dapat mengairi lahan hingga 10 hektar, meningkatkan jumlah petani penerima manfaat dari 20 menjadi sekitar 50 hingga 75 petani. Ini akan meringankan beban biaya dan tenaga karena pengelolaan dilakukan secara gotong royong,” jelasnya. [beq]






