Jember (beritajatim.com) – Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman alias Gus Firjaun bersama empat tokoh Kabupaten Jember memperkuat kepengurusan wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur 2024-2029. Kehadiran para tokoh ini diharapkan bisa menguatkan sinergi di kalangan nahdliyin.
Selain Gus Firjaun yang menjabat Wakil Ketua Tanfidz PWNU Jatim, ada mantan rektor Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Babun Soeharto (Wakil Sekretaris), Muhammad Noor Harisudin (Wakil Sekretaris), Alfian Futuhul Hadi alias Gus Ucuk (Wakil Sekretaris), dan KH Ahmad Khoir Zad Maddah (Wakil Rais Syuriah).
“Pengurus baru memiliki komitmen untuk memurnikan kembali secara organisastoris, bahwa NU adalah jam’iyah diniyah, organisasi keagamaan. Tentunya kaitan dengan urusan politik, tidak secara kelembagaan terlibat,” kata Firjaun, ditulis Senin (23/9/2024). Namun warga NU tetap bisa berpolitik sebagai individu.
Selain itu, lanjut Firjaun, ada beberapa bidang yang akan digarap oleh PWNU Jatim dengan melibatkan banyak ahli dan profesi. “Itu nanti akan dilakukan pembidangan untuk Jawa Timur. Program utamanya seperti apa secara rinci masih belum dibagi tugas dan kewenangan masing-masing wakil ketua,” katanya.
Firjaun sendiri ingin lebih banyak berkiprah di dunia kepesantrenan dan pendidikan. “Pendidikan ini kan macam-macam, terkait pesantren, madrasah, musala, masjid, madrasah diniyah,” katanya.
Menurut Firjaun, sektor-sektor tersebut berpotensi disusupi pihak-pihak yang ingin mengubah arah dan orientasi ahlussunnah wal jamaah NU. “Kami ingin mempertahankan pondok pesantren, madrasah, masjid, musala,” katanya.
Jember kini sudah memiliki peraturan daerah tentang pesantren. Firjaun ingin porsi perhatian terhadap pesantren dan madrasah bisa diperbesar pada masa mendatang. “Baik terkait dengan kesejahteraan ustaz dan kiai, maupun terkait sisi kelembagaan. Misalnya dengan membantu urusan seperti listrik dan sarana prasarana. Kalau ada pondok yang betul-betul tidak mampu membangun gedung dan sarana prasarana, kami bantu,” kata Firjaun.
Pondok pesantren besar dan sedang memiliki kemampuan membangun secara mandiri. Ini berbeda dengan pondok-pondok pesantren kecil. “Nanti itu ada kriterianya, termasuk soal jumlah santri minimal, untuk menghindari pondok fiktif. Kan sekarang sudah mulai bermunculan, tapi tidak ada santrinya,” kata Firjaun.
Terpilihnya lima tokoh ini disambut gembira Bupati Hendy Siswanto. “Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan penuh rasa tanggung jawab dan keberkahan tentunya, serta membawa kebaikan dan kemajuan bagi umat, khususnya masyarakat Jember,” katanya.
Hendy menyebut para tokoh yang ditunjuk menjadi pengurus NU Jatim itu telah berkontribusi untuk menyelesaikan sejumlah persoalan kaum nahdliyin di Jember. “NU pasti punya program dan visi-misi. Masukkan saja ke Pemkab Jember, kira-kira apa yang bisa kita lakukan bersama. Tentunya dengan mengikuti kearifan lokal dan kemampuan anggaran,” katanya.
Hendy ingin bisa bekerja sama lebih intensif dengan NU dalam menjalankan program-program keumatan untuk kepemimpinan periode kedua. “Kalau Allah merestui saya dipercaya masyarakat Jember, tentunya program NU ini bisa kita ‘spreading’ selama lima tahun. Saya akan ikuti,” katanya.
Selain berkolaborasi, Hendy berharap untuk lima tahun ke depan, para ulama dan kiai ikut mengontrol kinerja Pemkab Jember. “Waktu kami sangat terbatas dalam memimpin Jember (pada periode pertama). Mohon berikan masukan kepada kami, kira-kira apa yang harus kami lakukan ke depan,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Beritajatim.com, sebelum perda pesantren disahkan, Pemerintah Kabupaten Jember sudah intensif memberikan bantuan untuk pesantren, masjid, musala, dan guru ngaji sejak 2021. Pada 2021, ada 25 pondok pesantren yang masing-masing menerima bantuan Rp 20 juta dan 12 ribu orang guru ngaji yang menerima bantuan masing-masing Rp 1,5 juta.
Tahun 2022, bantuan diberikan untuk 20 pesantren dan 10.551 orang guru ngaji dengan nominal yang sama dengan tahun sebelumnya. Jumlah pesantren yang menerima bantuan bertambah menjadi 35 lembaga dengan nominal bantuan yang meningkat sebesar Rp 25 juta per pondok. Jumlah guru ngaji yang mendapat bantuan pun meningkat menjadi 18.159 orang dengan nominal bantuan masing-masing Rp 1,5 juta.
Total selama masa pemerintahan Bupati Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman pada 2021-2023, Pemerintah Kabupaten Jember telah menggelontor anggaran hibah dan bantuan sosial kurang lebih Rp 66,5 miliar untuk pesantren, masjid, musala, taman pendidikan Alquran, NU, guru ngaji, dan hal-hal terkait urusan keagamaan. [wir]






