Ngawi (beritajatim.com) – Krisis air bersih yang melanda Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, semakin memprihatinkan. Dampak musim kemarau yang panjang menyebabkan sumur-sumur warga mengering,.
Mereka terpaksa mencari alternatif untuk mendapatkan air, bahkan dengan menggali lubang di dasar sungai yang sudah kering.
Salah satu wilayah terdampak adalah Dusun Kaligede, Desa Ngancar, Kecamatan Pitu. Warga di sini sangat kesulitan mendapatkan air bersih, terutama untuk kebutuhan minum dan memasak.
Warga terpaksa menggali lubang atau membuat belik di dasar sungai yang mengering untuk mendapatkan sedikit air. Meskipun air yang diambil dari lubang ini tidak layak dikategorikan bersih, namun karena keterbatasan pilihan, mereka tetap menggunakannya setelah disaring terlebih dahulu.
“Setiap tahun seperti ini, susah sekali. Untuk hewan, untuk memasak dan minum, kami harus berebut mengambil air dari lubang, meskipun airnya kotor,” kata Trimaningsih, salah satu warga setempat, Rabu (18/9/2024)
Krisis air bersih ini telah berlangsung sejak bulan Agustus, di mana sebanyak 68 kepala keluarga (KK) di Dusun Kaligede terpaksa menggunakan air dari sungai kering tersebut untuk mencuci dan mandi. Kekurangan air bersih tidak hanya dirasakan oleh warga, tetapi juga ternak yang mereka pelihara. Bantuan air bersih dari pemerintah setempat melalui BPBD Kabupaten Ngawi sering kali tidak mencukupi kebutuhan seluruh warga yang terdampak.
Ninuk Ayu Wartini, Kepala Dusun Kaligede, menambahkan, “Kami mengambil air dari lubang kecil dan harus antre untuk kebutuhan masak, minum, mencuci, dan mandi. Bantuan air yang datang tidak cukup.”
Bantuan BPBD dan Permintaan Pembuatan Sumur Dalam
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi telah mengirimkan bantuan air bersih secara bergantian ke desa-desa terdampak. Berdasarkan data yang ada, krisis air bersih di Kabupaten Ngawi kini telah meluas hingga ke delapan desa yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Pitu, Ngawi Kota, Kasreman, Bringin, dan Sine. Total ada 720 kepala keluarga yang terdampak.
“Krisis air bersih meluas ke delapan desa di lima kecamatan. Kami melakukan pengiriman air setiap hari secara bergantian,” jelas Partoyo, Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Ngawi.
Meskipun warga sangat mengapresiasi bantuan yang datang, mereka berharap adanya solusi yang lebih permanen dari pemerintah, seperti pembuatan sumur dalam. Dengan adanya sumur tersebut, warga berharap bisa memenuhi kebutuhan air bersih tanpa harus bergantung pada bantuan yang tidak selalu cukup untuk semua warga.
Krisis air bersih di Ngawi menyoroti pentingnya solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera merespons dengan pembangunan infrastruktur yang memadai, termasuk pembuatan sumur dalam atau penyediaan sistem pengairan yang lebih efisien. [fiq/beq]






