Banyuwangi (beritajatim.com) – Rumah produksi pembuatan furnitur “Batu Indah Art” dengan bahan dasar dari daur ulang limbah plastik itu berada di Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Beragam produksi funitur mulai dari pot, meja, kursi, dan lainnya dengan kualitas ekspor.
Adalah Muhammad Soleh sang pengrajin bahan limbah plastik itu. Meski hanya limbah, tapi kualitas produknya memang luar biasa.
Walhasil, karyanya membikin kepincut warga di luar negeri. Di antaranya, Australia dan beberapa negara di Eropa terpikat oleh hasil kreativitas Muhammad Soleh.
Usaha furniture milik Soleh dimulai sejak 20 tahun silam atau tepatnya pada 2024 lalu. Kala itu dirinya masih merantau mencari peruntungan di Pulau Dewata, Bali.
“Sebelumnya saya bekerja di industri furnitur teraso sambil belajar. Setelah punya ilmunya, saya coba membuka usaha kecil-kecilan di Bali. Saya juga tetap bekerja di tempat lain sambil mengumpulkan modal,” kisahnya.
Namun, belakangan dirinya memilih kembali ke kampung halaman di Banyuwangi. Sekitar 4 tahun lalu, Soleh memulai produksinya di Desa Genteng Wetan tersebut.
“Sejak tahun 2020 pindah ke sini. Tapi, outlet penjualan yang utama tetap di Bali,” terangnya.
Pertama-tama, Soleh dulu hanya memproduksi pot dan bathtub dari teraso. Tapi, ada ide baru muncul untuk memanfaatkan limbah botol plastik.
“Sepertinya limbah ini bisa jadi pengganti bahan teraso. Lalu saya mulai mencoba memanfaatkan plastik untuk membuat rak, pot, set meja kursi,” ujarnya.
Saat ini, kata Soleh, respon pasar cukup baik dengan bahan baku limbah plastik ini. Meskipun diakuinya, hasil produksinya baru berjalan setahun ini.
“Kalau produk dari daur ulang limbah plastik memang masih sekitar satu tahunan. Tapi mendapat respon yang baik dari konsumen. Alhamdulillah sampai saat ini produk kami masih diminati pasar. Penjualan juga terus meningkat,” urainya.
Kini, berkat usaha yang digelutinya mampu menambah ekonomi bagi keluarganya. Tidak hanya itu, tempat usaha yang dirintisnya membuka peluang ekonomi bagi puluhan orang yang bekerja di tempatnya.
“Alhamdulillah omset puluhan juta perbulan. Ya, awalnya hanya punya satu orang pekerja, saat ini saya dibantu 20 orang pekerja untuk mengejar produksi,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi mengapresiasi apa yang dilakukan Soleh, karena sejalan dengan program Banyuwangi yang berupaya mengurangi sampah plastik.
“Ini sangat kreatif. Selain memiliki nilai ekonomi, juga turut menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah plastik. Desainnya bagus. Selain itu ringan dan kuat,” kata Ipuk.
Selain itu, langkah ini juga bisa menjadi inspirasi bagi warga lain di luar. Termasuk mampu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Apa yang dilakukan Mas Soleh ini bisa menjadi inspirasi bagi dunia usaha, untuk turut menjaga dan melestarikan lingkungan,” tambah Ipuk. [rin/aje]






