Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam mengatakan bahwa Pilkada di Surabaya sudah selesai. Karena hanya ada satu calon tunggal, Eri Cahyadi – Armuji.
Eri Cahyadi – Armuji adalah pasangan bakal calon walikota dan wakil walikota petahana di Surabaya yang didukung koalisi gemuk 18 partai pendukung, tanpa ada rival alias melawan kotak kosong.
“Saya sering berseloroh, Kota Surabaya itu sudah selesai pemilunya. Secara formal yuridis, tahapan prosedurnya saja yang belum selesai. Akan tetapi faktualnya sudah selesai,” kata Surokim dikonfirmasi, Minggu 1 September 2024 siang ini.
Menurut Surokim, koalisi gemuk partai di kubu Eri Cahyadi dan Armuji, adalah kenyataan politik hari ini. Kata dia, kotak kosong akan sulit mengalahkan koalisi petahana yang disokong 18 partai itu.
“Tidak akan signifikan. Kalau prediksi saya suara kotak kosong di Surabaya itu, paling tinggi hanya 7 persen,” jelas dia.
Pilkada 2024 Surabaya nihil penantang ini, lanjut Surokim merupakan fenomena aneh yang jarang terjadi. Sehingga ini ditafsirkan sebagai kegagalan partai – partai politik di Kota Surabaya.
“Catatan kritis yang harus diberikan kepada partai partai politik di Surabaya itu (mereka) gagal untuk memproduksi, menyiapkan, kadernya guna menjadi stok pemimpin publik berkualitas,” papar Surokim.
Surokim menjelaskan bahwa keadaan seperti ini tidak baik bagi demokrasi elektoral. Di mana, dia mengatakan partai partai di Surabaya hanya jadi pemandu sorak, cheerleader, yang bertepuk tangan kepada pasangan calon dari kader partai lain.
“Saya umpamakan partai partai di Kota Surabaya itu menjadi pemandu sorak cheerleader, bertepuk – tepuk tangan, menepuki kader partai yang lain,” ucapnya.
“Semestinya, kalau ingin demokrasi elektoral kita sehat, pemilu ini harus ada penantangnya, harus ada pembanding. Karena ini erat kaitannya dengan literasi politik kepada masyarakat,” imbuh Surokim
Oleh karena itu, Surokim menilai koalisi gemuk 18 partai yang mengerucut pada satu bakal calon ini, hanya mementingkan hubungan pramagtis jangka pendek. Mengincar ‘sharing power’ di kubu koalisi.
“Mereka partai politik pragmatis, untuk keperluan jangka pendek. Padahal termasuk incumbent pun juga bukan malaikat pasti ada evaluasi, ada kritik, dan hal hal itu tadi dibutuhkan dalam demokrasi,” tandasnya.
Diketahui, dalam Pilkada Surabaya tahun 2024 ini hanya terdapat satu pasangan calon petahana Eri Cahyadi – Armuji, yang mencalonkan diri sebagai kandidat Walikota Surabaya, periode 2024 – 2029.
Eri Cahyadi – Armuji disokong oleh koalisi gemuk 18 partai politik; PDI Perjuangan, PKB, Demokrat, PKS, PAN, PPP, Gerindra, Golkar, NasDem dan PSI.
Kemudian dari partai non parlemen yakni Pelindo, Partai Garuda, Partai Ummat, PBB, Partai Gelora, Partai Buruh, Hanura dan PKN. [ram/aje]






