Sampang (beritajatim.com) – Panen raya garam rakyat di Kabupaten Sampang tidak hanya membawa berkah bagi pemilik lahan. Para kuli angkut garam pun menikmati berkah itu.
Saat panen raya seperti saat ini, para kuli angkut garam kebanjiran pekerjaan. Mereka bisa menikmati upah tiap hari.
Seperti dituturkan Usman (38), salah satu kuli angkut garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan Sampang, yang merupakan sentra produksi garam rakyat. Saat panen raya, Usman mendapat upah Rp5.000 sekali angkut garam seberat 50 Kilogram.
Upah itu dihitung untuk jarak 500 meter dari lahan garam menuju tempat parkir truk pengangkut. Jika jaraknya lebih jauh, maka upahnya lebih banyak.
“Jika jaraknya sampai 700 meter atau lebih kita dibayar Rp7.000 sekali angkut garam kemasan 50 Kg,” ujarnya, Jumat, 30 Agustus 2024.
Senada dengan keterangan Hasbul, kuli angkut garam lain. Menurut dia, jika ingin menjadi kuli angkut garam harus punya sepeda motor. Karena dengan sepeda motor, proses pengangkutan garam bisa lebih cepat dan berkali-kali.
“Kalau sehari saya bisa mendapatkan uang Rp70 ribu sampai Rp100 ribu, karena bolak-balik dari tambak ke jalan raya,” tambahnya.
Hasbul juga mengaku jika musim panan raya garam, banyak kuli angkut yang berebut untuk dipekerjakan pemilik lahan. Namun, harus mempunyai sepeda motor sendiri.
Sebab, jika mengunakan sepeda angin prosesnya lambat. Dampaknya, upah yang diterima pun sedikit.
“Dulu pakai sepeda ontel, sekarang pakai sepeda motor karena lebih cepat dan hasilnya pun bisa banyak,” ujarnya.
Sekadar diketahui, hingga memasuki akhir Agustus 2024, produksi garam di wilayah Sampang terus berlangsung. Terik matahari musim kemarau tahun sangat menguntungkan pemilik lahan, sehingga produksi garam bisa meningkat. [sar/beq]






