Sidoarjo (beritajatim.com) – Desa Bulang, yang terletak di Kecamatan Prambon, Sidoarjo, telah mendapatkan julukan sebagai ‘Kampung Klepon’ berkat keberhasilannya dalam menggerakkan roda perekonomian desa melalui program Klasterku Hidupku yang digagas oleh BRI.
Di desa ini, para pengusaha klepon menjajakan kue tradisional khas Indonesia di sepanjang jalan, menarik perhatian dengan harga yang terjangkau.
Salah satu sosok terkenal di Desa Bulang adalah Nugraeni Lantarati, pemilik usaha Klepon Hj Nunuk yang telah berdiri sejak 1980.
Sebagai generasi keempat dalam keluarganya, Nugraeni terus melestarikan resep turun-temurun ini dan kini memimpin Klaster Klepon Bulang, yang diikuti oleh lebih dari 70 persen warga desa sebagai pengusaha klepon.
Kepala Dusun Bulang, Suyit, menyatakan bahwa keberadaan banyaknya pengusaha klepon telah menjadikan Desa Bulang sebagai destinasi wisata kuliner yang menarik.
Meskipun terkesan bersaing, para pengusaha klepon di desa ini justru sering bekerja sama. Contohnya adalah Julaikah, pemilik Klepon Anggun, yang merasa kehadiran Klepon Hj Nunuk di dekatnya merupakan peluang positif untuk pengembangan usahanya.
Sejak bergabung dalam program Klasterku Hidupku BRI pada tahun 2013, Julaikah mengakui bahwa tantangan terbesar dalam bisnis klepon adalah fluktuasi harga bahan baku. Namun, program ini memberikan dukungan yang signifikan, termasuk permodalan, pelatihan, dan pendampingan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh para pengusaha.
Selain itu, program Klasterku Hidupku BRI juga menyediakan bantuan peralatan produksi dan layanan perbankan digital seperti QRIS dan BRImo, yang semakin mempermudah para pengusaha klepon dalam mengembangkan bisnis mereka. Hingga akhir Juli 2024, BRI telah membina 31.488 klaster usaha melalui program ini, serta menyelenggarakan 2.184 sesi pelatihan.
Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari, menegaskan bahwa program Klasterku Hidupku merupakan bagian dari strategi BRI dalam memberdayakan UMKM. “Fokus strategi bisnis mikro BRI di 2024 adalah pemberdayaan UMKM, dengan mendahulukan pembiayaan sebagai prioritas utama,” ujarnya.
Sejarah Singkat Kampung Klepon Bulang Sidoarjo
Kampung Klepon Bulang di Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, memang sudah sangat terkenal sebagai sentra produksi klepon. Julukan ini bukan tanpa alasan, karena hampir seluruh warga di desa ini menggeluti usaha pembuatan klepon secara turun-temurun.
Meskipun belum ada catatan sejarah yang sangat detail mengenai kapan tepatnya Kampung Klepon Bulang mulai terbentuk, namun ada beberapa fakta menarik yang bisa kita gali:
Generasi ke Generasi: Usaha pembuatan klepon di desa ini sudah berlangsung selama beberapa generasi. Ada yang mengatakan sudah mencapai generasi ketiga atau bahkan lebih.
Hal ini menunjukkan bahwa tradisi membuat klepon sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Dimulai Sejak Orde Lama: Ada dugaan bahwa usaha pembuatan klepon di Bulang sudah ada sejak akhir masa Orde Lama. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.
Klepon Bulang yang Unik: Klepon Bulang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan klepon pada umumnya. Bentuknya cenderung lebih meruncing dan parutan kelapa disajikan terpisah.
Alasan Bulang Menjadi Kampung Klepon
Beberapa faktor yang mungkin menjadi alasan mengapa Bulang menjadi Kampung Klepon:
Potensi Lokal: Adanya bahan baku yang melimpah seperti kelapa, tepung beras, dan gula merah di sekitar desa tentu sangat mendukung perkembangan usaha pembuatan klepon.
Keterampilan Turun Temurun: Keahlian dalam membuat klepon yang diwariskan dari generasi ke generasi membuat kualitas klepon Bulang semakin terjamin.
Potensi Pasar: Letak geografis yang strategis dan kemudahan akses membuat produk klepon Bulang mudah dipasarkan baik di tingkat lokal maupun regional.
Klepon Bulang, Lebih dari Sekedar Jajanan
Keberadaan Kampung Klepon Bulang tidak hanya memberikan kontribusi pada perekonomian masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bukti kekayaan budaya kuliner Indonesia. Klepon Bulang adalah warisan leluhur yang perlu dilestarikan dan dikembangkan agar tetap menjadi ikon kuliner Sidoarjo. (ted)






