Jakarta (beritajatim.com) – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mencatat sejarah baru dengan pengapalan minyak mentah ke-1.000 dari Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris, Blok Cepu. Prestasi ini menggarisbawahi total produksi Blok Cepu yang mencapai 660 juta barel, jauh melampaui target awal sebesar 450 juta barel.
Pengapalan bersejarah ini, yang dilaksanakan pada 4 dan 5 Agustus 2024, mengirimkan 600 ribu barel minyak mentah dari FSO Gagak Rimang ke kapal tanker MT Nectar milik Pertamina, untuk kemudian diproses di kilang-kilang milik pemerintah di seluruh Indonesia.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Kurnia Chairi, menyebut keberhasilan ini sebagai “kado istimewa” dari industri hulu migas untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI.
“Pencapaian pengapalan ke-1.000 ini adalah simbol komitmen industri hulu migas dalam mendukung pembangunan nasional dan memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara,” ujar Kurnia dalam acara perayaan di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (13/8).
Kurnia juga menegaskan bahwa industri hulu migas tetap menjadi lokomotif pembangunan ekonomi, dengan dampak ganda yang besar bagi perekonomian, khususnya di wilayah Cepu dan Jawa Timur.
Presiden ExxonMobil Indonesia, Carole J. Gall, menambahkan bahwa pencapaian ini menunjukkan komitmen kuat EMCL untuk mendukung swasembada energi nasional di tengah transisi menuju energi hijau. “Industri hulu migas berperan vital dalam memastikan kebutuhan energi nasional terpenuhi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Carole.
Lapangan Banyu Urip, yang mulai berproduksi 15 tahun lalu, kini telah mencatatkan 1.000 kali pengapalan minyak dengan catatan keselamatan yang luar biasa—tanpa insiden besar selama lebih dari 3.400 hari. Selama proyek ini berlangsung, lebih dari 1.000 talenta terbaik Indonesia telah dipekerjakan, dengan 99 persen operasi Blok Cepu dikelola oleh putra-putri terbaik tanah air.
Dengan total investasi mencapai Rp57 triliun, Blok Cepu tidak hanya menghasilkan lebih dari 660 juta barel minyak, tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara, yang mencapai Rp442 triliun. Berdasarkan proyeksi terbaru, cadangan minyak di Banyu Urip berpotensi meningkat dua kali lipat menjadi 1 miliar barel, yang akan menambah pendapatan negara hingga Rp421 triliun lagi.
Pencapaian ini semakin menegaskan peran strategis Blok Cepu dalam mendukung ketahanan energi Indonesia. ExxonMobil terus berkomitmen untuk menjaga kinerja yang telah dicapai, termasuk melalui pengembangan lebih lanjut di Proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC), yang diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak dan memberikan kontribusi signifikan terhadap target nasional.
“Dengan dukungan semua pihak, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari,” tutup Carole Gall, sambil menyampaikan apresiasi kepada Kementerian ESDM dan mitra-mitra lainnya yang telah berperan penting dalam pencapaian ini.
Sementara Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana mengapresiasi atas keberhasilan EMCL yang telah mencapai pengapalan ke-1.000.
“Capaian lifting migas tahun 2024 target total 1, 7 barel oil equivalent per day. Terdiri dari lifting minyak 635.000 barel per day dan lifting gas bumi sebagai sebesar 1,33 juta barel oil ekivalen per day. Realisasi hingga akhir Juli 2024 baru 1.528.000. Terdiri dari minyak 568.000, dan gas 990 ribu. Meskipun belum terpenuhi secara target, namun ini langkah yang baik. Khusus EMCL telah melebihi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024,” kata Dadan. [kun]






