Malang (beritajatim.com) – Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. menyampaikan target 4 poin Sustainable Development Goals (SDGs) saat sambutan dalam acara sekolah keragaman. Sekolah Keragaman ini diadakan oleh Kelompok Kajian (KK) Wargakarta Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB.
Menurut Widodo dalam sambutannya secara daring sekolah keragaman merupakan inisiatif yang dirancang untuk mendukung dan mewujudkan beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs. Program ini tentu memberikan dampak yang luar biasa kepada SDGs.
“Setidaknya ada beberapa kategori atau tema SDGs, dianataranya adalah SDGs nomor empat, yaitu pendidikan yang berkualitas. Ini adalah komitmen kita bersama, bagaimana UB menyiapkan pendidikan yang inklusif dan berkualitas tinggi bagi masyarakat dan tentu bagi peserta didik kita,” ucap Widodo.
Dengan mengedepankan metode pembelajaran inovatif dan berbasis pada kebutuhan lokal, Rektor UB berharap dapat berpartisipasi dengan menyiapkan generasi mendatang untuk menghadapi tantangan global yang lebih berat. Kedua, Sekolah Keragaman juga menyasar SDGs nomor lima, yaitu kesetaraan gender.
“Dalam semua program dan aktivitas yang kami jalankan, kami menegaskan pentingnya kesetaraan gender. Sekolah Keragaman telah berupaya untuk menghapus ketidakadilan gender dan memastikan bahwa semua individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat. Demikian juga, kita di Universitas Brawijaya, juga melakukan hal yang sama,” lanjut Prof Widodo.
Kemudian yang ketiga adalah SDGs nomor sebelas, tentang kota dan komunitas yang berkelanjutan. Rektor UB percaya bahwa komunitas yang berkelanjutan adalah kunci bagi masa depan yang lebih baik.
“Melalui berbagai program yang mendukung keberlanjutan lingkungan, pembangunan kota yang inklusif, kita berharap dapat menciptakan tempat tinggal yang lebih nyaman, lebih baik bagi generasi yang akan dating,” lanjutnya.
Poin keempat adalah SDGs nomor 16, tentang perdamaian, keadilan, dan institusi yang kuat. UB juga berkomitmen untuk mendukung terciptanya perdamaian dan keadilan di masyarakat.
“Program-program yang telah ada difokuskan pada penguatan institusi yang lebih transparan, lebih akuntabel, serta mempromosikan nilai-nilai demokrasi dan keadilan sosial,” tegasnya.
Melalui upaya ini, UB yakin dapat mencapai perubahan yang signifikan dan positif. Keberhasilan dalam mewujudkan tujuan ini sangat tergantung pada kolaborasi kita bersama.
“Dukungan dari semua pihak untuk melanjutkan program-program yang telah diinisiasi dengan sangat baik. Saya ingin mengajak kita semua untuk terus bekerja sama, saling mendukung, berkomitmen pada visi kita, membuat masyarakat kita lebih baik, lebih sejahtera. Bersama-sama, kita dapat mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih adil lebih berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia,” kata Prof. Widodo.
Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada USAID, khususnya kepada Tim Harmoni USAID atas dukungan yang sangat berharga terhadap kegiatan Tri Dharma di UB. Dan dukungan yang diberikan bukan hanya memperkuat kapasitas institusi (UB).
Pihaknya juga membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan dalam mendukung pengembangan masyarakat dan pendidikan Indonesia. Pihaknya berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas inisiatif ini agar dapat memberikan dampak yang lebih luas.
“Kerja sama ini sangat berarti bagi kami, dan kami berharap dapat terus berjalan dan berkembang, serta membawa manfaat yang lebih besar ke depannya. Dengan semangat yang sama, kami juga berkomitmen untuk melanjutkan dan memperluas inisiatif ini agar dapat memberikan dampak yang lebih luas dan positif bagi masyarakat,” ucap Prof. Widodo.
Dr. Setiawan Noerdajasakti, SH., MH., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa, turut menyampaikan dukungannya terhadap keberlanjutan kegiatan SK ini.
“Masyarakat kita ini adalah masyarakat yang heterogen atau beragam. Jangan sampai keberagaman itu membuat kita terpecah belah, tapi anggap keberagaman itu suatu anugrah dan keindahan,” kata Dr. Setiawan. (dan/ian)






