Malang (beritajatim.com) – Prof. Dr. Suyono, M.Pd. Direktur Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) menyebut bahwa kejahatan dalam karya ilmiah tidak hanya plagiasi.
Terdapat tindak kejahatan lain yang lebih berbahaya dari plagiasi, yaitu fabrikasi, falsifikasi, dan ghostwriter.
“Plagiasi, itu tetap kejahatan tetapi sebenarnya adalah yang lebih jahat lagi dan tidak menjadi perhatian masyarakat. Apa itu? Ya fabrikasi dan falsifikasi. Falsifikasi itu penelitian itu ada tapi data dikondisikan sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan pihak terkait,” ujar Prof Suyono, saat ditemui beritajatim.com.
Tidak kalah bahaya, kejahatan ilmiah bernama fabrikasi. Fabrikasi ketika penelitian tidak dilakukan tapi seolah – seolah ada data.
“Yang lebih bahaya lagi Apa itu, ada penulis bayangan , itu dibuatkan oleh orang lain, tidak hanya S1, calon guru besar itu juga ada. Setelah itu selesai, dipelajari mati matian artinya ujian skripsi bisa, ujian tesis atau disertasi ya bisa,” lanjut guru besar Fakultas Sastra ini.
Menurut Prof Suyono, ghost writernya sangat berbahaya, seperti halnya joki. Apalagi, ketika karya ditulis oleh ghost writer maka aplikasi cek plagiat tidak akan mampu untuk mendeteksinya.
“Fenomena itu yang terjadi sudah lama. Saya tidak tahu kalau di luar negeri, tapi paling tidak kalau dicari literature asing itu ada, artinya luar negeri juga ada. Fabrikasi, falsifikasi, plagiasi dan kejahatan ilmiah lain itu ada semua di rujukan asing,” katanya.
Belakangan ini, kejahatan karya ilmiah diperparah dengan keberadaan Artificial Intelligence (AI). Membuat paper, proposal, atau karya ilmiah lain yang lengkap dengan rujukan sudah bisa dilakukan AI.
“Ini PR kita, kita tidak mungkin menghindar dari AI. Ada chat GPT dan banyak sekali yang lain, itu perlu diatasi. Teknologi seperti pisau bermata dua, di satu sisi bisa positif tapi di sisi lain kita bisa ditelan jika tidak mampu memanfaatkan,” ujarnya.
Prof Suyono memberi solusi untuk mengatasi kecurangan siswa dan mahasiswa yang memanfaatkan teknologi. Misalnya dalam ujian dengan memberikan tugas yang setara yang dikerjakan dalam hitungan 1 atau 2 jam dan mereka tidak bisa membawa perangkat elektronik.
Cara yang lain dengan ujian lisan. Dengan ujian lisan mahasiswa tentu tidak bisa membawa HP maupun laptop. Cara ketiga misalnya dengan tes tulis menggunakan kertas folio bergaris hanya mengerjakan dengan tulis sebanyak 2 sampai 3 lembar.
“Nanti dibandingkan, bagaimana dengan pekerjaan di rumah. Kalau baiknya itu setara berarti pintar, sebaliknya kalau di rumah baik saat langsung tidak berarti ini ada bantuan AI,” ujarnya menutup. (dan/ted)






