“Jika bukan karena judi dan perempuan, mungkin saat ini aku tak akan bingung dan hidup tak luntang – lantung” (Maul)
Malang (beritajatim.com) – Pemberantasan judi online terus dilakukan oleh pemerintah. Menteri Kominfo Budi Arie Setiadi mengatakan langkah ini menurunkan hingga setengah akses pada situs judi online.
Dikatakan Budi, adi langkah ini telah berhasil menurunkan 50% akses masyarakat pada situs judi online, serta menurunkan deposit pada judi online sebesar Rp34,49 triliun. Selain itu, pencegahan akan bisa berdampak lebih luas lagi. Bahkan menyatakan dapat menurunkan akses judi online hingga 90%.
Langkah pemerintah ini perlu terus dilakukan sebab nasib pemain judi online sungguh mengibakan. Beritajatim.com mencoba memotret lebih dekat pemain judi online yang merupakan mahasiswa di kota Malang.
Maul (bukan nama asli), mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Malang, mengatakan bahwa tak ada yang lebih menyulitkan daripada berurusan dengan dengan judi. Ia sudah terlanjur mabuk judi dan tak tahu bagaimana harus memulai semua kembali. Hutangnya bahkan pernah nyaris menyentuh 120an Juta. Namun, Maul masih terus bergantung pada putaran angka yang tidak pasti.
Maul sempat merasakan kemewahan uang hasil judi. Ia menikmati momen indah ketika kencan dengan perempuan penjaga tempat hiburan malam.
Dari judi online, Maul menganggap nyaris akan meraih segalanya. Ia pernah bisa mentraktir teman satu geng minum, beli handphone, sewa kontrakan, bahkan nyaris bisa untuk beli mobil. Namun, kenikmatan itu hanya bayang-bayang fatamorgana, semu yang tak sampai setahun sudah hilang seluruhnya.
Dengan hidup mewah dari judi online, Maul juga terpikat dengan hiburan malam. Ia sempat memacari seorang perempuan admin pemesanan salah satu tempat hiburan malam di kota Malang.
Maul bersama teman satu gengnya menjadi pelanggan setia di tempat hiburan malam itu. Sebut saja pacar Maul bernama Pita. Setiap kali akan pergi ke tempat dugem, Maul pasti melakukan transaksi pada Pita. Dari sekadar admin dan klien, hubungan keduanya pun berlanjut menjadi sepasang kekasih. Namun, hubungan ini tidak berlangsung lama. Maul ditinggalkan, ia dikhianati setelah kondisinya terpuruk.
Sebelum jadi penjudi, Maul bercerita pernah punya usaha makanan kecil-kecilan dengan sistem antar jemput. Usaha itu harus gulung tikar lantaran tidak ada waktu untuk mengurus. Siang ia habiskan untuk tidur, malamnya berkewajiban menjemput Pita pulang kerja, sisa waktunya untuk bermain judi.
“Ya awalnya JP (jackpoct) terus menerus. Bisa beli ini dan itu, bisa juga dibuat liburan berdua sama Pita. Tapi lama kelamaan judi online justru menjerumuskan pada hutang yang tak berkesudahan,” keluhnya penuh sesal.
Hutang Maul bertumpuk, nyaris 120 juta. Maul menyalahkan diri sendiri, ia juga kesal dengan Pita yang seolah memanfaatkan dirinya. Padahal, di sisi lain Pita ternyata memiliki pacar selain Maul. Hati maul teiris dua kali, dalam kondisi terpuruk semua yang melekat pada dirinya, termasuk orang yang disayangi harus pergi.
“Begitulah akhirnya, aku putus dengan Pita. Hutangku numpuk karena buat top-up judi online. Judi itu nagih, sekalinya pernah jackpot pasti cari lagi, ya awalnya mungkin ngga sadar, tiba-tiba udah banyak aja habisnya,” keluh Maul dengan nada miris saat ditemui.
Tak hanya Maul (23), Fano mahasiswa salah satu kampus di Malang yang baru berusia 24 tahun punya pengalaman judi untuk biaya pergi ke dugem. Maul dan Fano punya pengalaman nyaris serupa.
Fano (24) bahkan sampai harus putus kuliah lantaran judi online. Orang tuanya menyuruh ia pulang kampung lantaran telah banyak menghabiskan barang selama merantau di Malang.
“Saya gadaikan hp (smarthphone.red) buat top-up. Seminggu kemudian balik, karena saya menang. Tapi namanya manusia, dipenuhi nafsu. Lama kelamaan saya gadaikan Laptop, ga balik, terakhir saya gadaikan motor, juga ga kembali. Saya cerita ke orang tua malah disuruh pulang, yaudah gak lanjut kuliah,” katanya dengan nada menyesal saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp.
Judi online (judol), menurut Fano, selalu berdekatan dengan tempat hiburan malam. Ketika seseorang tahu cara mencari uang instan, ia pasti tergugah untuk mencari hiburan.
“Sebenarnya dalam judi, apapun itu, gaada pemain menang. Kita pasti kalah, kalau gak kalah pas main, ya kalah sama gaya hidup,” Fano menambahkan.
Jalan Mengakhiri Rantai
Fano dan Maul punya jalan untuk mengakhiri rantai perjudian. Maul misalnya, setelah hubungannya dengan Pita berakhir, ia memutuskan untuk hiatus, ia berhenti berjudi dan pergi ketempat hiburan malam. Maul menata hidupnya kembali dengan coba berwirausaha. Hasil dari wirausahanya ia gunakan untuk membayar hutang.
“Sekarang coba bangun-bangun usaha, judi udah stop, beberapa hutang sudah bisa terbayar meskipun belum semuanya terbayar. Mungkin sekarang sisa sekitar 50 Jutaan, yang paling susah itu bayar hutang ke pinjaman online karena ada bunganya,”
Maul menatap mata saya dalam – dalam, ia seolah ingin berbagi rasa sakit. “Tapi percayalah Dan, masih banyak temen – temen yang hidupnya lebih parah. Aku mungkin memang bodoh, tapi setidaknya aku gak pernah menyakiti orang lain,” katanya.
Sementara Fano, saat ini sudah melanjutkan hidup dengan membantu usaha orang tuanya. Ia hidup berkecukupan dan sesekali masih bermain judi online, meski tak segila dulu.
“Sekarang ya masih main, judi tipis – tipis, biasanya judi bola. Kalau judi di web gitu saya ampun dah, sudah pernah kelap sampai ratusan. Ya kalau judi bola relatif lebih aman,” katanya.
Terkait judi online ini Psikolog Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Ika Andrini Farida S.Psi M.Si., menyebut bahwa secara psikis judi online itu punya efek adiksi atau ketergantungan. Hal itu sama seperti adiksi narkoba, tetapi dalam bentuk ketergantungan terhadap judi online.
“Sama seperti ketergantungan narkoba, mungkin maksudnya tidak akan mengulangi, tetapi tubuhnya sudah tidak bisa mengatasi ketagihan, akhirnya melakukan lagi,” ucap Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UM ini.
Menurut dosen Fakultas Psikologi UM ini, pecandu judi online membutuhkan terapi. Misalnya terapi berkaitan dengan latar belakang yang memicu pecandu melakukan itu.
“Pecandu judi online juga perlu mengubah habit. Habit memang tidak terbangun dengan otomatis perlu proses dalam membongkar kebiasaan buruk judi online sehingga memprogram ulang otaknya,” jelas Andrini.
Kisah Maul dan Fano mengingatkan saya pada Malang. Kota ini seperti menjadi landmark panjang bagi tubuh pendatang. Pendatang yang diterjang keadaan, ditinggalkan pergi kesenangan, ada yang menyerah dan ada yang tetap tegar terus menjalani hidup. Maul dan Fano barangkali terus berupaya, keduanya tengah mencari jalan untuk keluar dari jebakan bernama judi online. [dan/aje]






