Bojonegoro (beritajatim.com) – Ribuan warga gagal menonton langsung pertandingan final bola voli Bhayangkara Cup yang diselenggarakan Polres Bojonegoro di GOR Utama Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (3/8/2024) malam.
Penonton yang sudah mengantongi tiket dan gagal masuk ini merasa kecewa. Padahal tiket pertandingan dibeli dengan harga Rp50 ribu. Sesuai jadwal grand final ada empat klub yang bertanding. Yakni, Bojonegoro Bhayangkara (Bobha), PK Sugihwaras, Gayam Jaya dan klub Napis Putra Tambakrejo.
Salah satu warga asal Kecamatan Sumberrejo, Dwi mengungkapkan, dirinya merasa kecewa karena tak bisa menonton idolanya, Rivan Nurmulki yang berlaga di Grand Final membela klub Bhayangkara Bojonegoro (Bhoba). “Kecewa sih, karena tak bisa masuk, dan lihat Mas Rivan main,” ungkap Dwi.
Ia menjelaskan, animo penonton begitu membeludak, sehingga mereka yang telah mendapatkan tiket, baik secara cuma-cuma maupun beli seharga Rp50 ribu, tak bisa masuk dan ditahan petugas kepolisian di depan pintu utama GOR Bojonegoro. Sementara, GOR Utama tersebut diketahui kapasitasnya sebanyak 4.000 penonton.
“Sangat banyak yang datang, di depan pintu utama itu, sempat terjadi desak-desakan antara penonton dan petugas. Karena, penonton ingin maksa masuk, namun ternyata sudah penuh (overload),” jelasnya.
Sementara itu, dalam sebuah video yang beredar di sosial media, Kasat Reskrim Polres Bojonegoro, AKP Fahmi Amarullah yang juga sebagai ketua panitia mencoba menghalau penonton yang berusaha memaksa masuk ke dalam GOR. Karena kondisi di dalam GOR sudah tak memungkinkan untuk menambah penonton.
“Kapasitas GOR itu terbatas. Kalau saya paksakan semua masuk ini akan mempertaruhkan nyawa kalian semua. Panitia sudah menyiapkan layar di depan. Semua bisa berkesempatan mendapat door prize,” ujar Kasat Reskrim Polres Bojonegoro AKP Fahmi Amarullah.
Pihaknya mengungkapkan, jika pada pertandingan grand final itu tidak menjual tiket. Tiket yang dicetak ini didistribusikan ke kepala desa masing-masing untuk dibagikan kepada warga. Sehingga, pihaknya menegaskan kepada warga yang membeli tiket langsung di lokasi bisa maju. “Tiket ini lewat kepala desa masing-masing untuk warga Bojonegoro. Kalau ada (kepala desa) yang menagih bayar tiket laporkan ke saya,” tegasnya. [lus/kun]






