Malang (beritajatim.com) – Sebuah video dugaan kekerasan guru terhadap seorang siswa di Kota Malang sedang viral di media sosial. Kekerasan tersebut terjadi di lingkungan SMKN 12 Kota Malang.
Kasus kekerasan pada siswa di SMK Negeri 12 Malang ini pun berakhir dengan damai. Keluarga siswa telah bertemu dengan manajemen sekolah satu hari setelah kejadian.
Pernyataan resmi dikeluarkan pihak sekolah melalui unggahan resmi Instagram @smkn12malang.official yang mengatasnamakan Kepala SMKN 12 Malang, Drs. Suryanto, M.Pd.
“Sehubungan dengan berita dugaan guru SMKN 12 Malang melakukan perundungan terhadap siswa, keluarga besar SMKN 12 Malang pada kamis 1 Agustus 2024 telah melakukan mediasi,” ungkap Kepala Sekolah Minggu (4/8/2024).
Mediasi telah dilakukan antara orang tua siswa, keluarga, siswa yang bersangkutan, guru yang bersangkutan dengan manajemen sekolah. Mereka semua sudah bisa saling memahami, menerima, dan saling memaafkan.
“Kami pihak (SMKN 12 Malang) menyampaikan permohonan maaf kepada siswa, orang tua siswa dan keluarga besar siswa, masyarakat, semua insan pendidikan khususnya di kota malang, malang raya dan dinas pendidikan provinsi Jawa Timur,” lanjutnya.

Di samping itu, pihaknya juga telah melakukan komunikasi dengan cabang dinas pendidikan wilayah Malang, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan berbagai pihak terkait. Suryanto berharap pernyataan ini dapat memberi pemahaman yang lebih jelas mengenai situasi yang sebenarnya terjadi.
“Kami juga ingin menegaskan bahwa tindakan kekerasan dalam bentuk apapun tidak akan ditoleransi di lembaga kami dan langkah-langkah telah diambil untuk menangani insiden ini secara serius,” lanjutnya.
Suryanto menyampaikan bahwa guru pelaku kekerasan merupakan guru agama. Selama ini dinilai baik. Bahkan dikenal akrab dengan siswa. Yang bersangkutan merupakan Guru Tidak Tetap (GTT).
Meskipun begitu, Kepala Sekolah tetap memberikan sanksi. Karena menurut Suryanto, kekerasan dalam bentuk apapun tidak dibenarkan di lingkungan sekolah.
“Kami sudah membuat surat pemberhentian mengajar. Namun guru yang bersangkutan, memilih untuk mengundurkan diri sebagai guru SMKN 12, karena merasa tidak nyaman dengan kondisi ini,” ujarnya. (dan/but)






