Surabaya (beritajatim.com) – Rumah di Jemur Gayungan RT1 RW3, Taman Pelangi atau Bundaran Dolog, sudah dikosongkan untuk pembangunan jalur ‘underpass’ atau jalur bawah tanah. Rumah itu dibeli kisaran harga Rp1 miliar hingga 20 miliar.
Dari pantauan beritajatim.com, perkampungan di tengah apitan jalan raya itu mulai sepi penduduk. Meskipun masih terlihat beberapa aktivitas warga dan anak-anak.
“Di sini ada 20 rumah dihuni 25 KK, dari jumlah itu yang sudah kosong mendapatkan pembebasan lahan ada 10 rumah,” kata Siri, warga setempat ditemui beritahatim.com, Minggu 4 Agustus 2024.
Siri mengatakan, 20 rumah di Jemur Gayugan ini sudah selesai melakukan MoU terkait pembebasan lahan dengan pemerintah Surabaya. Warga yang meninggalkan rumah, sudah mendapatkan pencairan ganti rugi. Sedangkan warga yang masih bertahan belum mencapai kesepakatan.
“Sebanyak 10 penghuni rumah yang bertahan di sini masih menunggu pencairan. Karena kemarin itu ada beberapa kendala, semisal sengketa lahan warga,” jelas Siri.
Meski demikian, lanjut Siri, masalah sengketa ini sudah selesai di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Kata dia, beberapa hari lagi pencairan selesai dan warga akan meninggalkan rumahnya.
Siri turut menjelaskan, ganti rugi oleh pemerintah kota (Pemkot) Surabaya kepada warga Jemur ini disepakati isaran Rp1 miliar sampai Rp20 miliar. Tentu saja, sesuai dengan luas lahan dan bentuk bangunan.
“Rumah-rumah ini dibeli oleh pemerintah dengan Harga Rp1 miliar ke atas. Sedangkan harga tertinggi itu ada di angka Rp20 miliar,” rincinya.
Siri mengaku tidak menyesalkan adanya program pembebasan lahan untuk underpass itu. Kata Siri, warga tidak ada pilihan lain, meski begitu banyak kesan-kesan hidup di tanah kelahiran mereka, di Jemur Gayugan Taman Pelangi, Bundaran Dolog.
“Semua orang punya kesan, riwayat. Soalnya ini tanah kelahiran. Dan sekarang mereka akan pindah ke mana? Itu pilihan masing masing,” jelasnya.
Di waktu menjelang penggusuran Jemur Gayugan ini masih terdapat aktivitas warga, seperti; ibadah di musala, anak anak yang berangkat sekolah dan bermain saat sore hari.
“Ya seperti ini keadaannya mulai sepi, rumah yang kosong aliran listrik disegel. Musala masih aktif, anak-anak dari 10 rumah masih bermain-main,” pungkasnya. [ram/suf]






