Jember (beritajatim.com) – Jember Fashion Carnaval ikut berperan menumbuhkan perekonomian dan menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Jember berusaha agar JFC berkesinambungan.
“Manfaat JFC untuk masyarakat Jember banyak banget. Kemiskinan di Jember saat ini turun 1,4 persen dari 2021. Sekarang 2024. Ini penurunan kemiskinan yang istimewa. Ini bagian dari pergerakan ekonomi karena ada event-event besar seperti JFC,” kata Bupati Hendy Siswanto, Jumat (2/8/2024).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Jember berkurang 11.690 jiwa dari 236.460 jiwa pada Maret 2023 menjadi 224.770 jiwa pada Maret 2024. Persentasenya pun menurun dari 9,51 persen menjadi 9,01 persen.
Persentase penduduk miskin di Jember lebih baik daripada Jawa Timur (9,79 persen atau 3,98 juta jiwa) dan nasional (9,03 persen atau 25,22 juta jiwa).
Tahun lalu, omzet pelaku usaha mikro kecil menengah Jember yang berjualan di tepi jalan pada saat penyelenggaraan JFC mencapai Rp 12,75 miliar. “Itu luar biasa. Tahun ini dengan acara yang dominan siang hari, tentunya akan lebih besar lagi. Ini sangat membahagiakan kita,” kata Hendy.
Kegiatan seperti JFC tak hanya berdampak pada perekonomian, tapi juga pariwisata. “Kemajuan Jember bisa dilihat wisatawan Indonesia maupun dunia,” kata Hendy.
JFC pertama kali diadakan pada 2003 yang diprakarsai oleh Dynand Fariz, seorang desainer berbakat asal Jember. Karnaval fesyen ini menempuh jarak 3,6 kilometer diawali dari Jalan Sudarman hingga depan GOR PKPSO Jember. Setiap tahun JFC mengusung tema yang berbeda, yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia serta isu-isu global. [wir]






